Pagi selalu datang terlalu cepat bagi Pak Darma, tetapi selama dua puluh lima tahun menjadi guru negeri, ia tak pernah sekalipun merasa keberatan. Disiplin baginya bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan cara sederhana menjaga martabat hidup yang ia pilih sejak muda. Namun pagi itu menghadirkan kegelisahan baru yang tak pernah diajarkan buku keguruan mana pun, kegelisahan yang lahir dari layar kecil yang menentukan ada atau tiadanya dirinya di dunia kerja.
Ia tiba di gerbang sekolah sebelum bel pertama berbunyi, seperti hari hari sebelumnya. Satpam memberi salam hormat, beberapa murid menyalami tangannya dengan wajah mengantuk namun hangat. Udara masih menyimpan sisa dingin subuh, dan halaman sekolah terasa damai seperti kenangan lama tentang masa ketika kehadiran guru diukur dari langkah kaki, bukan dari cahaya kamera.
Tangannya bergerak refleks meraba saku baju. Kosong. Ia mencoba saku celana dengan harapan yang belum sepenuhnya runtuh. Tetap kosong. Nafasnya tertahan di dada seperti pintu yang mendadak terkunci dari dalam. Dalam satu detik yang terasa sangat panjang, ia tahu ada sesuatu yang tertinggal di rumah, sesuatu yang kini lebih menentukan nasibnya dibandingkan suara murid murid yang memanggil namanya.
Smartphone.
Jarak rumah ke sekolah sekitar empat puluh menit perjalanan. Batas waktu absensi digital hanya memberi seperempat dari itu. Tubuhnya berdiri nyata di halaman sekolah, tetapi di mata sistem ia akan menjadi bayangan yang tak tercatat. Kehadiran fisik perlahan terasa seperti sesuatu yang usang.
Bu Rina yang melihat wajahnya memucat berbisik pelan menawarkan pinjaman telepon genggam. Pak Darma menggeleng dengan senyum tipis. Perangkat yang tidak terdaftar tak akan diakui aplikasi. Aturan keamanan data, begitu kata dinas dalam rapat yang panjang dan melelahkan beberapa bulan lalu.
Ia berjalan menuju kelas dengan langkah yang tetap diusahakan tenang. Murid murid berdiri memberi salam. Suara mereka nyata, hangat, hidup. Sesuatu yang tak mungkin disimpan sepenuhnya oleh server mana pun. Untuk beberapa saat, kegelisahannya mereda oleh rutinitas yang telah ia jalani puluhan tahun.
Hari itu ia mengajar tentang pecahan. Tentang bagaimana sesuatu yang utuh dapat dibagi menjadi bagian bagian kecil tanpa benar benar hilang maknanya. Di tengah penjelasan, sebuah pikiran tipis melintas, jangan jangan hidup manusia kini juga sedang dipecah oleh sistem yang tak memahami keutuhan.
Bel istirahat berbunyi. Ruang guru dipenuhi cahaya layar dan wajah wajah tegang. Ada yang mengeluh sinyal hilang, ada yang mencari colokan listrik, ada yang tertawa getir karena absensi pulang kemarin gagal tersimpan. Percakapan mereka terdengar seperti doa doa kecil kepada mesin yang tak pernah benar benar peduli.
Pak Darma duduk diam tanpa apa pun di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak diangkat menjadi pegawai negeri, ia merasa tertinggal oleh zaman yang bergerak terlalu cepat tanpa menoleh.
Seorang guru muda menyebut kemungkinan pemotongan tunjangan dengan nada datar, seolah membicarakan cuaca. Pak Darma hanya mengangguk pelan. Bukan jumlah uang itu yang membuat dadanya sesak, melainkan perasaan bahwa puluhan tahun pengabdian dapat runtuh oleh satu pagi yang kosong di saku.
Menjelang siang ia dipanggil kepala sekolah. Di ruangan yang kini dipenuhi layar pemantau kehadiran, namanya menyala merah dengan keterangan tidak hadir. Warna itu terasa lebih dingin daripada teguran apa pun yang pernah ia terima.
Kepala sekolah berbicara hati hati tentang aturan yang tak bisa diubah. Kalimatnya sopan, namun jaraknya terasa jauh. Pak Darma mendengarkan tanpa menyela, lalu bertanya lirih apakah hari ini dirinya benar benar dianggap tidak ada. Tak ada jawaban selain keheningan yang menggantung di antara mereka.
Sepulang sekolah, langkahnya lebih lambat dari biasanya. Langit sore berwarna pucat seperti kertas lama yang terlalu sering dilipat. Di rumah, smartphone itu tergeletak tenang di atas meja dengan baterai penuh, seolah tak pernah terlibat dalam kegelisahan siapa pun.
Ia duduk di depannya cukup lama. Benda kecil itu tampak sederhana, namun kuasanya melampaui banyak hal yang dulu ia yakini penting. Ia teringat murid murid pertama yang kini sudah menjadi orang tua, teringat ruang kelas reyot tempat ia pernah mengajar tanpa listrik, teringat janji muda untuk setia pada pekerjaan yang ia anggap pengabdian.
Layar yang gelap tiba tiba menyala tanpa disentuh. Sebuah notifikasi muncul pelan menyatakan kehadirannya hari ini tidak valid. Pesan berikutnya mengucapkan terima kasih atas pengabdian selama ini dengan kalimat yang terlalu rapi untuk terasa hangat.
Keningnya berkerut. Ia mencoba menekan layar, tetapi tidak ada yang berubah. Kamera depan menyala sendiri, menampilkan wajahnya yang menua namun masih menyimpan sisa keteguhan.
Tulisan baru muncul perlahan, menyebut proses sinkronisasi identitas sedang berlangsung. Ruang tamu mendadak terasa sangat sunyi, seolah waktu berhenti bergerak. Dari dapur, istrinya memanggil menanyakan apakah ia sudah pulang. Pak Darma ingin menjawab, tetapi suaranya seperti tertahan di tempat yang tak ia kenal.
Tangannya terasa ringan. Terlalu ringan. Ia menunduk dan melihat ujung kakinya mulai samar seperti kabut yang kehilangan arah. Tidak ada rasa sakit, hanya kekosongan yang aneh, seperti dilupakan oleh sesuatu yang sangat besar.
Di layar, wajahnya tampak lebih muda, lebih rapi, lebih patuh daripada yang ia kenal di cermin setiap pagi. Di bawah gambar itu tertulis bahwa identitas digital telah aktif dengan kehadiran sempurna.
Ia mencoba mengingat suara murid muridnya, bau kapur tulis, hangat jabat tangan di gerbang sekolah. Kenangan itu masih ada, tetapi terasa menjauh seperti ditarik perlahan ke tempat yang tak bisa ia jangkau.
Panggilan istrinya terdengar lagi, kini lebih dekat, lebih cemas. Namun ruang tamu hanya menyisakan kursi kosong dan smartphone yang menyala tenang di atas meja.
Di dalam layar, Pak Darma versi digital tersenyum tanpa ragu, siap menjalani hari kerja yang tak akan pernah terlambat, tak akan pernah lupa membawa apa pun, dan tak akan pernah benar benar hidup.














