BuserNasional — Pagi masih basah oleh angin laut ketika perahu kayu perlahan meninggalkan pesisir Cilincing. Di atasnya, keluarga, barang bawaan, dan harapan pulang bercampur dalam ruang sempit tanpa banyak perlindungan. Murah dan bebas macet menjadi alasan utama, namun perjalanan ini menyimpan risiko yang tak selalu disadari, apalagi benar benar diperhitungkan oleh para penumpangnya.
Perahu kayu itu bergerak pelan meninggalkan bibir pantai Cilincing, Jakarta Utara. Mesin kecilnya meraung pendek, memecah sunyi pagi yang masih menyisakan sisa gelap. Di dalamnya, orang dewasa duduk berhimpitan, anak anak bersandar pada tas, dan sebagian penumpang hanya bisa menatap air dengan wajah pasrah. Mereka bukan sedang berwisata, melainkan pulang kampung dengan cara yang paling mungkin mereka jangkau. (Kompas TV, “Hemat dan Cepat Warga Jakut Mudik Naik Perahu ke Bekasi”, 18 Maret 2026)
Pilihan menggunakan perahu kayu bukan tanpa alasan. Bagi sebagian warga pesisir, jalur darat bukan hanya macet, tetapi juga mahal dan melelahkan. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, ongkos menjadi pertimbangan utama. Perahu kayu menawarkan perjalanan yang lebih cepat dan biaya yang lebih ringan, meski tanpa jaminan kenyamanan, apalagi keselamatan. Fakta bahwa moda ini tetap digunakan menunjukkan adanya kebutuhan riil yang belum terjawab oleh sistem transportasi formal. (Kompas TV, 18 Maret 2026)
Namun di balik efisiensi itu, tersimpan risiko yang tidak kecil. Perahu kayu yang digunakan umumnya tidak dirancang sebagai angkutan penumpang massal. Kapasitas sering kali dilampaui, alat keselamatan minim, dan pengawasan nyaris tidak terlihat. Dalam kondisi cuaca buruk, perjalanan semacam ini bisa berubah dari sekadar alternatif menjadi ancaman nyata. Risiko ini bukan kemungkinan yang jauh, tetapi sesuatu yang selalu menyertai perjalanan.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting yaitu bagaimana masyarakat kelas bawah sering kali dipaksa bernegosiasi dengan risiko. Ketika pilihan yang tersedia hanya mahal atau berbahaya, maka keputusan yang diambil bukan lagi soal preferensi, melainkan keterpaksaan. Dalam konteks ini, perahu kayu bukan sekadar moda transportasi, tetapi simbol dari keterbatasan pilihan yang dimiliki sebagian warga kota.
Ketiadaan transportasi publik yang terjangkau dan merata hingga wilayah pesisir memperlihatkan adanya celah dalam kebijakan. Selama ini, pembangunan transportasi lebih berfokus pada daratan dan pusat kota, sementara wilayah pinggiran seperti pesisir sering kali terabaikan. Akibatnya, warga menciptakan sistem mobilitas sendiri, meskipun harus mengorbankan aspek keselamatan. Ini adalah bentuk adaptasi, sekaligus tanda adanya ketimpangan struktural.
Di sisi lain, praktik ini juga menunjukkan bagaimana risiko dapat menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Penumpang naik tanpa pelampung, duduk berhimpitan, dan tetap melanjutkan perjalanan tanpa banyak protes. Bukan karena mereka tidak sadar bahaya, tetapi karena mereka sudah terbiasa hidup dengan keterbatasan. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan berubah menjadi kemewahan, bukan standar minimum.
Ironinya, semua ini terjadi di wilayah metropolitan yang dikenal sebagai pusat kemajuan ekonomi. Di saat teknologi transportasi semakin berkembang, masih ada warga yang harus mengandalkan perahu kayu sederhana untuk perjalanan penting seperti mudik. Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu hadir secara merata. Ada kelompok yang melaju cepat, tetapi ada pula yang tertinggal jauh di belakang.
Fenomena mudik dengan perahu kayu seharusnya tidak hanya dilihat sebagai keunikan atau cerita menarik, tetapi sebagai sinyal peringatan. Ini adalah cermin dari sistem transportasi yang belum sepenuhnya inklusif. Pemerintah perlu melihat ini bukan sebagai pilihan warga, tetapi sebagai konsekuensi dari keterbatasan akses yang tersedia.
Solusi yang diperlukan bukan sekadar pelarangan, tetapi penyediaan alternatif yang nyata. Transportasi air yang lebih aman, subsidi perjalanan bagi masyarakat pesisir, serta pengawasan keselamatan yang lebih ketat dapat menjadi langkah awal. Tanpa itu, warga akan terus kembali pada pilihan lama yaitu murah tetapi berisiko.
Pada akhirnya, perjalanan dengan perahu kayu ini bukan hanya tentang pulang kampung. Ia adalah cerita tentang ketahanan, keterbatasan, dan keberanian menghadapi risiko. Namun dalam masyarakat yang adil, keberanian seperti itu seharusnya tidak diperlukan. Karena pulang ke rumah mestinya tidak pernah menjadi taruhan antara selamat atau tidak.














