Sunyi Pengabdian Menjelang Akhir Tugas

banner 120x600

Pengumuman itu dibacakan di aula kecil sekolah pada pagi yang muram. Tidak ada karpet merah tidak ada musik seremonial. Hanya selembar kertas resmi dan beberapa tepuk tangan yang terdengar ragu. Di barisan depan seorang guru tua berdiri perlahan menerima kabar yang datang ketika waktunya hampir selesai.

Aku pertama kali membaca kisah beliau dari sebuah unggahan yang ramai dibagikan orang orang. Narasinya singkat namun mengusik batin. Puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan mengajar anak anak desa dengan penghasilan yang kerap terlambat dan kadang tidak datang sama sekali. Hingga akhirnya pada ujung masa tugas tepat satu minggu sebelum pensiun beliau menerima surat keputusan sebagai PPPK paruh waktu.

Kolom komentar penuh empati dan amarah yang tertahan. Banyak yang menulis bahwa negara sering datang terlambat memberi pengakuan. Namun di aula itu beliau tetap berdiri tenang. Tidak ada raut menuntut. Seolah ingin mengatakan bahwa mengajar bukan soal imbalan melainkan soal amanah.

Cerita ini kubingkai dari ingatanku sendiri. Aku pernah menjadi muridnya. Tiga puluh tahun silam aku duduk di bangku kayu berkaki timpang di ruang kelas berdinding papan. Setiap pagi beliau datang paling awal menyapu lantai menulis di papan tulis lalu menunggu kami satu per satu masuk. Bajunya sering sama tangannya kapalan tapi suaranya selalu hangat ketika memanggil nama kami.

Suatu hari beliau bertanya tentang cita cita. Aku menjawab asal ingin menjadi guru. Beliau tersenyum kecil lalu berkata agar aku belajar lebih tekun darinya. Kalimat itu sederhana namun melekat seperti paku kecil yang tak pernah tercabut dari ingatan.

Tahun tahun berjalan aku pergi merantau bekerja dan perlahan lupa pulang. Sementara beliau tetap di sekolah yang sama mengajar generasi demi generasi. Namanya hidup di ingatan murid muridnya tetapi hampir tak tercatat rapi dalam administrasi negara. Hingga surat keputusan itu datang di saat tenaga dan waktunya hampir selesai.

Apresiasi tidak berhenti pada surat itu. Pada sisa akhir pengabdian beliau mendapat hadiah yang tak pernah dimintanya pemberangkatan ibadah umrah pada Januari dua ribu dua puluh enam. Hadiah tersebut diserahkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat sebagai penghormatan atas dedikasi panjang dan ketulusan tanpa henti bagi dunia pendidikan.

Aku melihat fotonya berdiri di antara para pejabat. Tubuhnya tampak lebih renta namun sorot matanya sama seperti dulu tenang dan tidak menuntut. Tepuk tangan bergema kamera menyala namanya disebut lantang. Untuk pertama kalinya ia berdiri di panggung yang layak baginya.

Di rumah beliau menyiapkan koper kecil. Istrinya melipat pakaian dengan cermat. Di sudut kamar ada rak kayu berisi buku buku lama dan tumpukan rapor murid muridnya. Kepada tetangga beliau berkata ingin berangkat dengan tenang karena baginya ini bukan hadiah melainkan amanah.

Hari hari menjelang pensiun terasa singkat seperti hitungan napas. Di sekolah murid murid memberinya bunga kertas dan surat sederhana. Beliau membaca satu per satu tanpa pidato panjang hanya doa yang lirih. Aku datang terlambat ketika suasana perpisahan telah usai.

Saat aku tiba di desa sekolah itu tampak sepi. Papan nama mulai pudar. Aku bertanya pada penjaga sekolah tentang beliau. Penjaga itu terdiam lalu menunjuk sebuah foto di dinding kantor.

Ia berkata bahwa itu foto terakhir beliau di sekolah. Setelah menerima surat keputusan dan penghargaan itu beliau jatuh sakit. Aku terpaku menatap foto tersebut senyum tipis mata lelah namun damai.

Penjaga itu melanjutkan dengan suara pelan bahwa beliau wafat tiga hari sebelum masa pensiunnya benar benar berakhir. Dan umrah itu akhirnya tetap berangkat atas namanya namun yang pergi adalah istrinya.

Dadaku terasa kosong. Selama ini kukira kisah ini tentang penghargaan yang akhirnya datang tentang keadilan yang meski lambat tetap tiba. Nyatanya ini adalah kisah tentang pengabdian yang selesai bahkan sebelum penghargaan sempat dinikmati.

Di bawah foto itu tertulis nama beliau. Di sudut bingkai ada tulisan tangan yang baru kusadari Ilmu adalah perjalanan pulang jika aku tak sampai biarlah doaku yang melanjutkan.

Saat itulah aku mengerti. Cerita ini bukan tentang surat keputusan bukan tentang umrah dan bukan tentang pensiun. Ini adalah cerita tentang seseorang yang telah menunaikan tugasnya sepenuhnya bahkan sebelum dunia selesai mengucapkan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *