KHGT Dibahas Dalam Halaqah Muhammadiyah Nasional

banner 120x600

Nasional — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) melalui penyelenggaraan Halaqah KHGT 2026 di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Kamis, 14 Mei 2026. Forum ilmiah tersebut menghadirkan sejumlah tokoh Muhammadiyah dan akademisi guna membahas tantangan, peluang, serta arah implementasi kalender hijriah global di masa mendatang secara komprehensif dan berkelanjutan.

Upaya penyatuan kalender hijriah kembali menjadi perhatian serius Muhammadiyah. Melalui Halaqah KHGT 2026, organisasi Islam modernis tersebut berupaya memperluas ruang dialog ilmiah mengenai masa depan Kalender Hijriyah Global Tunggal yang selama ini terus dikembangkan sebagai salah satu ikhtiar membangun keseragaman waktu ibadah umat Islam di tingkat dunia.

Forum yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan itu mempertemukan unsur pimpinan Muhammadiyah, kalangan akademisi, hingga pemerhati ilmu falak untuk mendiskusikan berbagai tantangan implementasi kalender hijriah global. Pembahasan tidak hanya menyentuh aspek astronomi dan hisab, tetapi juga persoalan fikih, sosial, hingga kesiapan umat menerima sistem kalender Islam yang berlaku lintas negara.

BERITA TERKAIT  Forum Pemuda Bangkalan Siap Laporkan Oknum LSM yang Catut Nama "KPK RI. Resmi"

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar menilai penyatuan kalender hijriah merupakan kebutuhan peradaban Islam modern. Menurutnya, umat Islam membutuhkan sistem penanggalan yang mampu menghadirkan kepastian waktu secara bersama tanpa kehilangan landasan syariat maupun validitas ilmiah.

Pandangan serupa juga berkembang di lingkungan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang selama ini aktif mengembangkan konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal berbasis pendekatan astronomi kontemporer. Muhammadiyah melihat bahwa perbedaan awal bulan hijriah yang terus berulang setiap tahun bukan hanya persoalan teknis ibadah, melainkan juga menyangkut simbol kesatuan umat di era globalisasi.

Dalam forum tersebut, para peserta membahas bagaimana perkembangan teknologi astronomi telah membuka peluang lebih besar untuk membangun kalender Islam internasional yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun demikian, tantangan penerapan KHGT dinilai tetap kompleks karena berkaitan dengan perbedaan metodologi, otoritas keagamaan, serta tradisi penentuan awal bulan di berbagai negara Muslim.

BERITA TERKAIT  Cara Menjadi Good Looking Menurut Islam

Muhammadiyah memandang bahwa dialog terbuka dan pendekatan akademik menjadi langkah penting untuk memperkecil perbedaan pandangan di tengah umat. Karena itu, halaqah tidak diarahkan sebagai forum pengambilan keputusan sepihak, melainkan wadah pertukaran gagasan yang memungkinkan lahirnya titik temu dalam isu kalender Islam global.

Selain menjadi agenda intelektual, pembahasan KHGT juga dipandang memiliki implikasi praktis yang luas. Keseragaman kalender hijriah diyakini dapat membantu koordinasi pelaksanaan ibadah internasional, penentuan hari besar Islam, aktivitas pendidikan, ekonomi syariah, hingga agenda sosial umat Islam lintas negara.

Di tengah perkembangan dunia yang semakin terkoneksi, kebutuhan terhadap kalender Islam global dianggap semakin mendesak. Perbedaan penetapan awal Ramadan, Idulfitri, maupun Iduladha yang kerap terjadi di sejumlah negara sering memunculkan kebingungan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Muhammadiyah terus mendorong penguatan diskursus KHGT melalui berbagai forum ilmiah.

BERITA TERKAIT  Cermin Hati Dalam Sikap Sehari Hari

Halaqah KHGT 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi semata, melainkan mampu memperkaya arah pemikiran Islam kontemporer dalam menjawab kebutuhan umat modern. Dengan memadukan perspektif syariah, sains, dan realitas global, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pendekatan baru yang lebih inklusif terhadap sistem kalender Islam masa depan.

Melalui forum ini pula, Muhammadiyah ingin menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan ajaran agama tidak perlu dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk membangun peradaban Islam yang lebih teratur, adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat secara luas.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *