Di ruang tunggu sebuah klinik kesehatan jiwa, seorang pria duduk sambil memegang buku catatan tua. Ia terlihat tenang, bahkan sempat tersenyum pada orang yang lewat. Namun halaman halaman buku itu menyimpan kisah yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Kisah tentang seseorang yang setiap hari terlihat baik baik saja, padahal hidup bersama badai batin.
Pagi itu ruang tunggu klinik terasa lengang. Hanya suara kipas angin tua yang berputar lambat di langit langit ruangan. Beberapa kursi plastik berderet rapi, sebagian kosong, sebagian ditempati orang orang yang menunggu giliran bertemu dokter.
Aku duduk di sudut ruangan sambil menggenggam buku catatan kecil yang sampulnya sudah mulai kusam. Kertasnya menguning, sudut sudutnya terlipat, seperti terlalu sering dibuka lalu ditutup kembali.
Seorang perawat berjalan melewati deretan kursi.
“Mas sudah daftar?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk kecil.
“Sudah, Mbak. Tinggal menunggu saja.”
Perawat itu tersenyum lalu melangkah pergi. Dari luar mungkin aku terlihat seperti orang biasa yang hanya sedang menunggu seseorang berkonsultasi.
Padahal sebenarnya aku sedang menunggu keberanian.
Tanganku membuka halaman pertama buku catatan itu.
Di sana tertulis kalimat dengan tinta biru yang sedikit pudar.
Orang dengan gangguan mental itu luar biasa kuat.
Aku membaca kalimat itu perlahan.
Entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak.
Di halaman berikutnya tulisan tangan itu terlihat lebih tergesa. Seolah ditulis pada malam yang panjang.
Bayangkan saja, setiap hari mereka bisa memakai topeng. Tersenyum di depan banyak orang. Pura pura bahagia. Pura pura tidak ada luka.
Aku berhenti membaca sejenak.
Di luar jendela, pohon flamboyan bergoyang pelan diterpa angin. Sinar matahari jatuh di lantai seperti garis garis cahaya yang tenang.
Segalanya tampak damai dari luar.
Aku melanjutkan membaca.
Mereka bisa berkata aku baik baik saja dengan suara tenang. Padahal di dalam dirinya ada badai yang tidak pernah reda.
Tanganku tanpa sadar menekan halaman buku itu lebih erat.
Di kursi seberang, seorang pria paruh baya menatap lantai tanpa bergerak. Di sisi lain seorang ibu tua memeluk tasnya erat erat.
Ruang tunggu itu penuh orang yang tampak biasa.
Namun mungkin masing masing sedang membawa sesuatu yang tidak terlihat.
Aku membuka halaman berikutnya.
Tulisan di sana tampak lebih tidak rapi.
Begitu sendiri, semuanya berubah.
Kalimat itu berdiri sendirian di tengah halaman.
Di bawahnya ada tulisan lain.
Tawa berganti tangis.
Napas menjadi berat. Dada terasa sesak.
Tulisan berikutnya tampak seperti ditekan keras oleh pena.
Tangan sendiri menjadi sasaran untuk ditinju. Rambut sendiri menjadi pelampiasan.
Aku menghela napas panjang.
Ada sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan kalimat kalimat itu.
Aku membuka halaman selanjutnya.
Kepala penuh suara.
Tulisan itu dicoret.
Di bawahnya ditulis lagi.
Ribut. Bising. Kacau.
Lalu sebuah kalimat kecil.
Tidak ada kata yang mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
Halaman berikutnya hampir kosong.
Hanya satu kalimat pendek.
Yang ada hanya hampa.
Di bawahnya ditulis lagi.
Hampa yang menyakitkan.
Tanganku berhenti membuka halaman.
Untuk beberapa detik aku hanya duduk diam sambil menatap tulisan itu.
Kipas angin tua masih berputar di atas kepala. Suaranya berderit pelan seperti sesuatu yang dipaksa terus bergerak meski sudah lelah.
Aku membuka halaman terakhir.
Tulisan di sana terlihat lebih tenang.
Lebih rapi.
Jika suatu hari kamu membaca ini, jangan kasihan pada orang seperti kami.
Kami bukan orang lemah.
Kami adalah orang orang yang setiap hari melawan badai yang tidak terlihat siapa pun.
Kami belajar tersenyum walau hati retak.
Kami belajar tertawa walau kepala berisik.
Kami belajar berdiri walau jiwa lelah.
Aku menelan ludah.
Ada sesuatu yang membuat tanganku gemetar.
Di bagian paling bawah halaman itu tertulis kalimat lain.
Jika suatu hari kamu bertemu seseorang yang selalu terlihat baik baik saja, jangan langsung percaya.
Aku membaca kalimat terakhir dengan pelan.
Bisa jadi orang itu adalah aku.
Tanganku berhenti.
Mataku turun ke bagian paling bawah halaman.
Di sana ada sebuah nama.
Tulisan tangan itu terasa sangat familiar.
Bentuk hurufnya. Tekanan tintanya. Cara huruf hurufnya miring sedikit ke kanan.
Perlahan aku menutup buku itu.
Lalu membuka kembali halaman terakhirnya.
Nama itu masih sama.
Tidak berubah.
Itu adalah namaku sendiri.
Aku menatap buku catatan itu lama sekali.
Baru saat itu aku benar benar sadar.
Buku yang sejak tadi kubaca dengan rasa penasaran itu bukan kisah orang lain.
Itu adalah buku harian yang pernah kutulis sendiri.
Pada malam malam ketika aku masih berusaha meyakinkan dunia bahwa aku baik baik saja.














