Darto tak pernah mengira suara istrinya akan datang sebagai perpisahan. Tiga bulan Sari merantau dari Indramayu, berjanji membantu ekonomi keluarga. Namun yang masuk ke ponselnya malam itu bukan kabar gaji, melainkan rekaman suara yang memutus segalanya. Anak anak menangis, rumah mendadak sunyi, dan Darto sadar ada sesuatu yang disembunyikan sejak awal.
Sari dikenal sebagai perempuan yang keras kepala, tapi hatinya lembut. Di kampungnya di Indramayu, ia bukan tipe yang mudah mengeluh. Ia terbiasa bangun sebelum subuh, memasak nasi seadanya, lalu mencuci pakaian sambil menggendong anak bungsunya. Hidup baginya bukan soal mimpi besar, melainkan soal bertahan.
Suaminya, Darto, bekerja serabutan. Kadang jadi kuli bangunan, kadang bantu panen, kadang ikut bongkar muat di pasar. Pulang dengan uang tak tentu. Jika sedang sepi pekerjaan, mereka bertahan dari utang warung, atau sekadar menanak nasi dengan garam dan sambal terasi.
Di rumah kecil berdinding batako itu, dua anak mereka tumbuh dengan kesederhanaan yang sering terasa menyakitkan. Anak sulungnya mulai sering menunduk saat teman temannya membicarakan uang jajan. Si bungsu kadang menangis karena ingin susu, sementara Sari hanya bisa menenangkan dengan air hangat dan gula.
Sari menatap wajah anak anaknya suatu malam, ketika listrik mati dan hanya lampu minyak yang menyala. Ia merasa takut. Bukan takut lapar, tapi takut anak anaknya kelak mewarisi hidup yang sama.
Beberapa hari kemudian, tawaran itu datang. Seorang tetangga yang pernah bekerja di luar negeri menyebut ada agen penyalur yang bisa memberangkatkan Sari. Kerja sebagai ART, gaji lumayan, dan bisa membantu keluarga.
Sari sempat ragu. Ia bukan perempuan yang berani jauh jauh. Tapi ketika Darto pulang membawa uang hanya cukup untuk membeli beras lima kilogram, keraguan itu runtuh. Ia tidak ingin melihat anak anaknya terus hidup dalam kekurangan.
Malam sebelum berangkat, Sari duduk di tikar bersama Darto. Anak anak sudah tidur. Suara jangkrik dari sawah terdengar panjang, seperti ikut menghakimi kemiskinan mereka.
Mas, aku pergi ya. Cuma tiga bulan. Aku mau pulang bawa uang buat sekolah mereka, kata Sari dengan suara pelan.
Darto mengangguk. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya merah. Tangannya menggenggam ujung sarungnya, seperti menahan sesuatu yang ingin pecah.
Kalau capek, pulang. Jangan dipaksain, jawab Darto.
Sari menatap suaminya lama. Ada rasa sayang, tapi juga ada rasa kecewa yang sudah bertahun tahun ia simpan. Darto tidak buruk, hanya kalah oleh keadaan.
Pagi keberangkatan, kampung ramai seperti ada hajatan. Tetangga datang memberi pesan, ada yang mendoakan, ada yang mengingatkan agar Sari jangan lupa keluarga. Anak anak menangis memeluk kaki ibunya.
Sari mengusap rambut mereka, memeluk mereka satu per satu, lalu menahan air mata dengan cara menggigit bibir. Ia tidak ingin menangis. Jika ia menangis, ia takut langkahnya goyah.
Bus membawa Sari ke kota, lalu menuju bandara. Dari sana, ia terbang menuju India. Ia tidak benar benar paham mengapa tujuan akhirnya berubah, sebab agen hanya berkata semua sudah diatur. Yang penting, ia akan bekerja dan mengirim uang.
Namun, begitu ia mendarat, dunia terasa seperti labirin. Suara orang orang berbicara cepat, papan petunjuk tak ia pahami, dan teleponnya tidak mendapat sinyal stabil. Ia berdiri di sudut bandara dengan koper besar, memandangi kerumunan yang tak peduli.
Sari menelan ludah. Ia ingin menelepon agen, tapi nomor itu sulit dihubungi. Berkali kali ia mencoba. Tidak ada jawaban. Ia mulai merasa panik, dan untuk pertama kalinya, ia menyesal sudah pergi.
Di saat itulah seorang pria mendekat. Kulitnya gelap, rambutnya rapi, dan matanya tajam namun tidak menakutkan. Ia mengenakan kemeja putih, membawa tas kecil, dan tersenyum tipis seolah ia sudah memperhatikan Sari sejak lama.
You need help, madam, tanyanya dalam bahasa Inggris yang patah.
Sari ragu. Tapi pria itu mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat bahwa ia tidak berniat jahat. Ia menunjuk koper Sari, lalu menunjuk kursi tunggu.
Tanpa banyak pilihan, Sari mengangguk kecil. Pria itu membantu membawa koper, menuntun Sari ke tempat duduk, lalu membelikan air minum.
Nama saya Sharul Khan, katanya sambil menepuk dadanya sendiri.
Sari mengangguk kikuk. Saya Sari. Dari Indonesia.
Sharul tersenyum lebih lebar. Indonesia. Beautiful country.
Hari itu Sharul menjadi satu satunya orang yang membuat Sari merasa tidak sendirian. Ia membantu Sari mencari sinyal, bahkan mencoba menelepon nomor agen dengan ponselnya sendiri. Tetapi nomor itu tetap tak bisa dihubungi.
Sari mulai gemetar. Matanya berkaca kaca.
Sharul menatapnya, lalu berkata pelan, You can stay at my place. Just temporary. Safe.
Sari terdiam. Ia takut, tapi ia juga tidak punya uang hotel, tidak punya keluarga, dan tidak tahu harus pergi ke mana. Ia mencoba menolak, tapi tubuhnya lelah, pikirannya kacau.
Pada akhirnya, ia ikut.
Rumah Sharul sederhana tapi bersih. Ada aroma rempah yang kuat, ada karpet tipis di lantai, dan ada foto keluarga di dinding. Sharul menyiapkan makanan hangat. Nasi dengan bumbu yang asing di lidah Sari, tapi rasanya mengenyangkan.
Malam itu, Sari menangis diam diam di kamar kecil yang Sharul siapkan. Ia merasa bodoh. Ia merasa gagal bahkan sebelum bekerja. Ia takut pulang tanpa uang. Ia takut ditertawakan tetangga.
Sharul tidak masuk ke kamar. Ia hanya duduk di ruang depan, seperti menjaga. Sesekali ia bertanya dari balik pintu, Are you okay.
Sari menjawab dengan suara serak, I am okay.
Namun, di dalam hatinya, ia tidak baik baik saja.
Hari demi hari berlalu. Sari menunggu kabar agen, tapi tetap tak ada kejelasan. Sharul selalu punya alasan menenangkan. Ia bilang mungkin ada masalah administrasi, mungkin agen sedang sibuk, mungkin nanti ada kabar.
Sari mulai merasa hidupnya menggantung. Setiap hari ia memeriksa ponsel, berharap ada pesan dari Indonesia. Tetapi sinyal sering hilang. Ia hanya bisa mengirim kabar singkat kepada Darto, sekadar mengatakan ia baik baik saja.
Darto di Indramayu membalas dengan cepat, menanyakan kapan Sari mulai bekerja. Sari selalu menjawab, segera.
Sari tidak ingin Darto tahu bahwa ia terlunta lunta. Ia tidak ingin anak anaknya tahu ibunya menangis sendirian di negeri asing.
Sharul semakin sering menemani. Ia mengajak Sari ke pasar, memperlihatkan jalan jalan kecil yang ramai, membelikan buah, bahkan membelikan kain baru agar Sari tidak terlihat seperti orang kebingungan.
Perhatian itu membuat Sari merasa berharga. Ia tidak lagi merasa seperti perempuan miskin dari kampung yang selalu kalah. Di dekat Sharul, ia merasa seperti seseorang yang pantas diselamatkan.
Pada suatu sore, Sharul membawa Sari ke sebuah tempat yang ramai. Ada musik, ada lampu, ada orang orang tertawa. Sari tertegun. Ia tidak pernah melihat dunia seperti itu.
Di kampungnya, hiburan hanyalah televisi kecil yang sering mati karena listrik turun. Di sini, hidup terasa penuh warna.
Sharul menatap Sari sambil berkata, You deserve happiness.
Kalimat itu menghantam Sari seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Malam malam berikutnya, Sari mulai berubah. Ia mulai memakai parfum. Ia mulai merapikan rambutnya. Ia mulai tersenyum di depan cermin. Ia mulai lupa bahwa ia datang bukan untuk mencari bahagia, tapi untuk mencari uang.
Sharul melarang Sari bekerja sebagai ART. Ia bilang pekerjaan itu berbahaya. Ia bilang banyak perempuan asing diperlakukan buruk.
You stay with me. I take care, katanya.
Sari ragu. Tapi ketika Sharul memberinya uang untuk membeli kebutuhan sendiri, ketika Sharul membelikan obat saat ia demam, ketika Sharul memeluknya saat ia menangis karena rindu anak anak, Sari mulai kehilangan batas.
Ia mulai membenarkan semuanya dengan satu alasan sederhana, aku juga butuh bahagia.
Namun di balik bahagia itu, rasa bersalah tumbuh diam diam. Setiap kali ia melihat anak kecil di jalan, ia teringat anaknya. Setiap kali ia mendengar suara ibu ibu memanggil anaknya, dadanya terasa sesak.
Sari mulai jarang menghubungi rumah. Bukan karena tidak rindu, tapi karena ia takut. Ia takut mendengar suara anak anaknya. Ia takut hatinya runtuh dan ia pulang dengan tangan kosong.
Suatu malam, ketika hujan turun deras, Sari duduk di lantai kamar dan memegang perutnya. Ia mual sejak pagi. Sharul memanggil dokter.
Dokter berkata singkat. Pregnant. Two months.
Sari membeku. Dunia terasa berputar.
Ia memandang Sharul. Pria itu justru tersenyum dan menggenggam tangannya.
Good news, katanya.
Bagi Sharul itu kabar bahagia. Bagi Sari, itu seperti vonis. Ia merasa masa lalunya tertutup rapat. Ia merasa pintu pulang semakin jauh.
Ia menangis semalaman.
Pagi harinya, Sharul bicara dengan nada tegas namun lembut. You marry me. We build family here. No more Indonesia.
Sari terdiam. Ia ingin menolak, tapi ia juga takut. Ia takut sendirian. Ia takut hamil tanpa perlindungan. Ia takut jika ia pulang, ia akan dianggap perempuan hina.
Dan yang paling menakutkan, ia sadar ia tidak punya uang untuk kembali.
Di Indramayu, Darto semakin gelisah. Sudah hampir tiga bulan. Tidak ada kiriman uang. Hanya pesan singkat sesekali. Anak anak mulai sering bertanya.
Pak, ibu kapan pulang, tanya anak sulungnya.
Darto menahan napas. Sebentar lagi, jawabnya, walau ia sendiri tidak yakin.
Suatu malam, listrik padam lagi. Mereka makan dalam gelap. Setelah anak anak tidur, Darto duduk di ruang tengah sendirian. Ia menatap map plastik biru di lemari yang sejak lama ia simpan.
Map itu berisi dokumen keberangkatan Sari, nomor agen, dan fotokopi paspor. Ia tidak tahu kenapa ia menyimpannya dengan sangat rapi, seolah hatinya sudah curiga sejak awal.
Ia menghembuskan napas panjang, lalu mematikan rokoknya.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Nomor asing masuk.
Darto terdiam. Tangannya gemetar.
Ia membuka pesan itu. Sebuah rekaman suara.
Ia menekan tombol putar.
Assalamualaikum, Mas Darto. Ini Sari.
Suara itu membuat dada Darto langsung sesak.
Mas, aku minta maaf. Aku nggak bisa pulang. Aku nggak bisa lagi jadi istrimu.
Darto menatap lantai. Napasnya berat.
Aku di India. Aku tinggal sama seseorang yang baik. Namanya Sharul Khan. Dia nolong aku waktu aku pertama datang.
Darto menelan ludah. Ia menahan diri agar tidak berteriak.
Mas, aku nggak kerja. Aku nggak jadi ART. Aku tinggal sama dia. Dia nafkahin aku.
Suara Sari bergetar, seolah ia sedang memaksa dirinya sendiri untuk bicara.
Mas, aku akan menikah di sini. Aku akan tinggal di India. Aku udah hamil dua bulan.
Kalimat itu jatuh seperti batu besar menghantam dada Darto.
Dikamar, anak anak terbangun karena suara isak Darto yang tak bisa ia tahan. Anak sulungnya keluar, menatap ayahnya dengan wajah bingung.
Pak, itu suara ibu, ya.
Darto tidak menjawab. Matanya basah. Ponsel itu tetap menempel di telinganya.
Suara Sari melanjutkan.
Maafin ibu ya, Nak. Maafin ibu. Ibu cuma pengin bahagia. Ibu capek hidup miskin terus. Di sini ibu merasa hidup.
Tangis anak anak pecah. Mereka memeluk ayahnya.
Mas Darto, jangan cari aku. Anggap aku udah mati. Jaga anak anak.
Rekaman itu selesai.
Rumah itu menjadi sunyi, seolah seluruh dunia ikut berhenti.
Darto tidak langsung marah. Ia hanya duduk, memeluk anak anaknya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa tubuhnya kosong.
Malam itu ia tidak tidur. Ia duduk di teras, menatap jalan yang sepi. Di kejauhan, suara anjing menggonggong, lalu hilang ditelan angin.
Ia memutar ulang pesan itu berkali kali. Setiap kali diputar, rasa sakitnya semakin dalam, tapi juga semakin jelas. Ada sesuatu dalam suara Sari yang aneh.
Bukan hanya sedih.
Ada ketakutan.
Ada jeda jeda yang terasa seperti Sari sedang menahan tangis, atau sedang menahan seseorang yang berdiri di dekatnya.
Darto menutup mata. Ia mengingat Sari. Perempuan itu keras, tapi ia bukan tipe yang tega memutus anak anak begitu saja.
Ia berdiri, masuk ke dalam rumah, membuka map plastik biru itu. Ia mengeluarkan dokumen, lalu membuka selembar kertas yang selama ini ia simpan di bagian paling bawah.
Kertas itu bukan milik agen.
Itu catatan tangan Sari sendiri, yang ia tulis sebelum berangkat. Darto menemukannya beberapa hari setelah Sari pergi, terselip di balik lemari. Ia tidak pernah berani membacanya sampai malam itu.
Tangannya gemetar ketika membuka kertas itu.
Tulisan Sari rapi, tapi ada noda air mata yang mengaburkan beberapa huruf.
Mas, kalau suatu hari aku hilang kabar, jangan percaya semuanya. Aku takut. Agen ini aneh. Aku merasa seperti dijual. Aku cuma pura pura kuat di depan kamu. Kalau aku tidak pulang, tolong cari aku. Tolong selamatkan aku.
Darto mematung.
Kepalanya berdengung.
Ia menatap kertas itu lama, lalu menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Anak sulungnya berdiri di ambang pintu, menatap ayahnya.
Pak, ibu kenapa, Pak.
Darto mengusap kepala anak itu. Suaranya bergetar, tapi tegas.
Ibu kalian nggak pergi karena mau.
Anak itu menelan ludah.
Darto mengambil ponselnya. Ia menatap nomor asing pengirim pesan suara itu. Lalu ia menekan tombol telepon.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu sebuah suara pria menjawab dengan bahasa asing.
Darto diam beberapa detik, lalu berkata pelan dengan bahasa Indonesia yang jelas, seolah ia sengaja ingin didengar.
Saya suaminya Sari. Saya sudah dengar pesan itu.
Di ujung telepon, suara itu terdiam.
Lalu sambungan diputus.
Darto tersenyum kecil. Senyum yang bukan bahagia, melainkan senyum orang yang akhirnya menemukan pintu.
Ia membuka ponsel lamanya, ponsel kecil yang retak, yang selama ini ia simpan karena masih menyimpan beberapa nomor penting. Ia mencari satu kontak yang sudah lama tak ia hubungi.
Namanya hanya satu kata. Ravi.
Darto mengetik pesan singkat.
Aku sudah dapat jejaknya.
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
Kirim alamatnya.
Darto menatap layar lama. Matanya tajam.
Ia menoleh ke anak anaknya yang kembali tidur karena lelah menangis.
Darto berbisik, hampir seperti doa.
Sari, kalau kamu memang sedang dipaksa, aku akan bawa kamu pulang.
Ia memasukkan catatan Sari ke dalam dompet. Lalu ia memasukkan dokumen paspor ke dalam tas kecil. Ia tidak banyak membawa pakaian. Ia hanya membawa yang perlu.
Sebelum berangkat, ia berdiri di depan cermin retak di ruang tengah. Ia menatap wajahnya sendiri.
Selama ini ia terlihat seperti laki laki kalah. Seperti suami serabutan yang pasrah pada hidup. Tapi malam itu, matanya berbeda.
Ia mengambil jaket, lalu menulis pesan di secarik kertas untuk tetangganya. Ia titip anak anak. Ia titip rumah.
Kemudian ia melangkah keluar.
Jalan kampung sunyi. Lampu jalan redup. Angin membawa bau sawah dan tanah basah.
Darto berjalan menuju jalan besar, menunggu ojek lewat. Saat motor datang, ia naik tanpa banyak bicara.
Di sepanjang jalan menuju terminal, Darto memegang dompetnya erat. Di dalamnya ada catatan Sari. Catatan itu lebih berharga dari uang berapa pun.
Ia memejamkan mata sejenak.
Lalu ia teringat sesuatu yang membuat dadanya panas.
Suara Sari di rekaman tadi.
Di akhir rekaman, sebelum benar benar berhenti, ada bunyi kecil yang nyaris tak terdengar.
Bukan suara angin.
Bukan suara hujan.
Melainkan suara Sari berbisik sangat pelan, hampir seperti kata terakhir yang sengaja disembunyikan dari Sharul.
Mas, aku…
Kalimat itu terputus.
Tapi bagi Darto, itu cukup. Itu tanda bahwa istrinya belum benar benar menyerah.
Ia membuka ponsel sekali lagi, memutar ulang rekaman itu, dan kali ini ia mendengarnya dengan lebih tajam.
Ia mendengar suara langkah kaki di belakang Sari.
Ia mendengar suara pintu ditutup keras.
Dan ia mendengar suara Sharul yang samar, seperti mengawasi.
Darto menggenggam ponselnya sampai tangannya memutih.
Ia menatap jalan gelap di depan, lalu berkata lirih, seperti janji yang tak bisa dibatalkan.
Aku datang.
Motor berhenti di terminal. Bus malam menuju kota sudah siap. Darto naik, duduk di dekat jendela. Lampu terminal memantul di kaca, membuat bayangannya terlihat seperti orang asing.
Ia mengeluarkan catatan Sari sekali lagi. Ia membacanya berulang ulang, seolah setiap huruf adalah peta menuju keselamatan.
Bus mulai bergerak.
Ketika Indramayu semakin jauh, Darto menatap langit yang gelap. Tidak ada bintang. Hanya awan tebal.
Namun ia tidak takut.
Karena ia tahu, malam itu bukan akhir keluarganya.
Malam itu adalah awal.
Dan di dalam ponselnya, pesan dari Ravi masuk sekali lagi, singkat namun membuat darah Darto mengalir dingin.
Sharul Khan bukan orang biasa. Dia bagian jaringan perdagangan perempuan.
Darto menutup matanya.
Ia akhirnya mengerti.
Selama ini ia mengira istrinya memilih jalan yang salah.
Ternyata istrinya sedang jatuh ke dalam perangkap yang lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Darto membuka mata, menatap lurus ke depan, lalu berbisik sekali lagi, kali ini bukan kepada Sari, tapi kepada dirinya sendiri.
Aku akan pulangkan kamu, apa pun caranya.
Bus melaju menembus malam.
Sementara jauh di India, di sebuah kamar sempit yang pintunya terkunci dari luar, Sari duduk memeluk lututnya. Di tangannya ada ponsel. Layarnya retak.
Ia baru saja mengirim pesan suara itu.
Sharul berdiri di belakangnya. Senyumnya tipis, tapi matanya dingin.
Send. Now, katanya.
Sari menekan tombol kirim.
Namun sebelum ponsel itu direbut dari tangannya, ia sempat melakukan satu hal yang Sharul tidak sadari.
Ia menekan tombol rekam sekali lagi, hanya sepersekian detik.
Dan ia berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar.
Mas, aku masih hidup.
Sari menatap pintu terkunci itu. Air matanya jatuh pelan.
Lalu ia tersenyum tipis.
Karena di dalam hatinya, ia yakin Darto akan membaca tanda itu.
Dan ketika Sharul menutup pintu dengan keras, Sari menempelkan telinganya ke dinding, mendengar suara motor di luar.
Di kejauhan, seperti ilusi, ia merasa mendengar suara kampungnya. Suara anak anaknya memanggil. Suara suaminya berkata, tunggu aku. Sari memejamkan mata. Di negeri asing itu, ia menunggu.
Dan untuk pertama kalinya sejak berangkat, ia tidak merasa sendirian.














