Cerpen: Alarm Yang Membutuhkan Listrik Kekuasaan

banner 120x600

BuserNasional — Di tengah lingkar aspal kampus yang teduh, seorang mahasiswa berdiri dengan kaos hitam bertuliskan tiga kata tajam di dadanya. Ia tidak berteriak, tidak membawa spanduk besar, hanya pengeras suara kecil dan tablet berisi data. Namun kalimat di kaosnya menjelma gema yang menyentuh kesadaran banyak orang yang selama ini diam.

Bundaran Argadipa siang itu berubah menjadi ruang dengar. Kendaraan melambat, kamera ponsel terangkat, bisik bisik mengalir di bawah rindang pepohonan. Di tengah lingkar itu, Rendra Mahatma berdiri tegak. Ia Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Cakrawala Nusantara, kampus yang sering dielu elukan sebagai benteng nalar kritis.

Kaos hitamnya sederhana. Huruf putih tebal di dadanya berbunyi Maling Berkedok Gizi. Sebuah plesetan dari akronim program makan bergizi gratis yang sedang dipuji banyak pihak sebagai jawaban atas persoalan gizi nasional. Namun di tubuh Rendra, tiga huruf itu berubah menjadi peringatan.

Ia membuka mimbar jalanan dengan suara tenang. Tidak meledak ledak, tidak penuh caci maki.

Jika niatnya mulia, anggarannya harus jujur. Jika tujuannya anak anak, transparansi bukan pilihan, melainkan kewajiban.

Beberapa mahasiswa duduk di trotoar. Ada yang menyimak serius, ada yang menyiarkan langsung. Seorang pedagang minuman menghentikan adukannya. Seorang dosen senior berdiri agak jauh dengan wajah sulit ditebak.

Rendra menampilkan angka angka di tabletnya. Ia memaparkan simulasi anggaran yang menurut tim kajiannya menyimpan kejanggalan. Biaya distribusi melonjak tinggi. Pos administrasi membesar. Mekanisme pengawasan tidak terang. Kata katanya mengalir seperti air yang tenang namun dingin.

Program ini bisa menjadi berkah. Tapi bisa pula menjadi celah. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang diberi makan, tetapi siapa yang paling dulu kenyang.

Tepuk tangan terdengar, tidak gemuruh, tetapi cukup untuk mengubah udara. Potongan video mulai beredar di media sosial. Kaos hitam itu menjadi simbol. Ada yang memuji keberanian. Ada yang menuduh mencari panggung. Ada yang menyebut ditunggangi kepentingan.

Sore itu Rendra menutup mimbar dengan kalimat singkat.

Mahasiswa bukan musuh siapa pun. Kami hanya alarm. Jika kami berbunyi, mungkin ada yang perlu diperiksa.

Ia turun dari bundaran dengan langkah ringan. Namun malam harinya, di sebuah kafe kecil dekat kampus, langkah itu terasa lebih berat.

Di hadapannya duduk Arman Wirasena, konsultan komunikasi dari sebuah lembaga kebijakan publik. Jasnya rapi. Senyumnya terukur. Di atas meja, dua cangkir kopi mengepul.

Penampilanmu hari ini kuat, kata Arman pelan. Narasinya matang. Simbolnya bekerja.

Rendra mengangguk tanpa tersenyum.

Kami ingin mendorong perbaikan kebijakan, lanjut Arman. Tapi suara lembaga seperti kami sering dicurigai. Suara mahasiswa lebih dipercaya.

Sebuah map tipis diletakkan di atas meja. Proposal kajian alternatif skema distribusi program gizi nasional. Di dalamnya ada tawaran dukungan riset, dana operasional, akses jaringan, bahkan kemungkinan beasiswa luar negeri untuk aktivis muda berintegritas.

Rendra membaca cepat. Ia terdiam lebih lama dari yang ia rencanakan.

Organisasi kami kekurangan dana, katanya akhirnya. Banyak kajian tertunda.

Arman tersenyum tipis. Idealisme juga butuh logistik.

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman. Lebih seperti pengingat.

Hari hari berikutnya, mimbar jalanan semakin ramai. Kaos hitam dicetak ulang. Diskusi publik digelar. Rendra tampil lebih sistematis. Data yang ia bawa semakin rapi. Kritiknya semakin tajam, namun tetap terukur.

Ia tidak lagi hanya menyoal dugaan kebocoran, tetapi menawarkan skema alternatif distribusi. Skema yang menurutnya lebih efisien, lebih profesional, lebih akuntabel.

Media nasional mulai meliput. Wajahnya muncul di layar kaca. Ia disebut simbol generasi berani.

Namun di sekretariat yang sempit, seorang anggota tim riset bernama Saka menelusuri asal usul lembaga pemberi hibah. Ia menemukan jejak kepemilikan saham yang terhubung dengan perusahaan logistik besar. Perusahaan itu sebelumnya kalah dalam tender distribusi program gizi.

Saka membaca ulang proposal alternatif. Skema baru yang diusulkan ternyata hanya realistis dijalankan oleh perusahaan dengan infrastruktur seperti milik mereka.

Keesokan harinya, ia menemui Rendra.

Kita sedang dipakai, kata Saka tanpa basa basi.

Rendra terdiam. Ia tidak tampak terkejut.

Kamu sudah tahu, tanya Saka pelan.

Rendra menatap jendela. Di luar, mahasiswa lalu lalang seperti biasa.

Di negeri ini, katanya perlahan, suara tanpa daya tidak didengar. Kita ingin perubahan. Mereka punya alatnya.

Jadi kita menjadi corong mereka, suara Saka meninggi.

Kita tetap kritis, jawab Rendra. Jika skema mereka memang lebih efisien, mengapa harus ditolak hanya karena siapa pemiliknya.

Itu bukan soal efisiensi. Itu soal integritas.

Rendra memejamkan mata sejenak. Dalam benaknya terlintas pesan ibunya yang bangga melihat wajahnya di televisi. Terlintas pula laporan keuangan organisasi yang defisit. Ia ingat malam ketika ia hampir membatalkan tanda tangan, tetapi akhirnya tetap menorehkannya.

Alarm juga butuh listrik, katanya lirih. Tanpa itu, kita hanya suara yang padam.

Saka menatapnya lama. Seperti menyaksikan sesuatu runtuh pelan pelan.

Beberapa minggu kemudian, buku putih resmi dirilis. Judulnya netral. Isinya tajam. Rekomendasinya jelas mendorong perubahan distribusi sesuai skema alternatif.

Publik memuji keberanian mahasiswa. Pemerintah berjanji mengevaluasi. Perusahaan logistik yang dulu kalah tender mulai disebut sebagai opsi profesional.

Di bundaran Argadipa, Rendra kembali berdiri. Kaos hitam itu masih melekat di tubuhnya. Tiga kata putihnya tetap menggigit.

Ia berbicara tentang transparansi, tentang perbaikan sistem, tentang masa depan anak anak bangsa. Tepuk tangan terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Namun di dalam tasnya, tersimpan map kerja sama yang telah diperbarui. Dana tahap kedua cair pagi itu.

Di sekretariat, lemari kayu tua menyimpan beberapa kaos cadangan yang tidak pernah dipakai di ruang publik.

Di dada kaos itu tercetak tiga huruf kecil MBG.

Di bawahnya bukan lagi Maling Berkedok Gizi.

Melainkan Mitra Baru Gerakan.

Dan di luar sana, alarm terus berbunyi, nyaring dan dipercaya, tanpa ada yang benar benar tahu siapa yang membayar listriknya.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *