Cerpen: Keteguhan Iman Mengubah Arah Takdir

banner 120x600

BuserNasional — Di atas pelaminan berkilau, sepasang pengantin berdiri berdampingan sambil memegang pigura besar berbingkai emas. Angka angka di dalamnya membuat banyak orang terdiam, sebagian berbisik, sebagian lagi menahan kagum. Namun kisah ini bukan tentang kemenangan, bukan pula tentang harta. Ia adalah cerita tentang penolakan, keteguhan iman, dan takdir yang baru bekerja setelah pilihan hidup benar benar diambil dengan sadar.

 

Pigura itu memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung rendah. Nama pengantin tertulis anggun dengan tinta keemasan: Aruna Kirana dan Elias Rowan. Di bawahnya tercetak tanggal yang kelak akan dikenang banyak orang. Aku berdiri beberapa langkah dari pelaminan, menyaksikan bagaimana senyum Aruna tampak tenang, sementara mata Elias menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bahagia.

 

Orang orang menyebut kisah ini sebagai cerita tentang mahar fantastis. Mereka memulainya dari angka, dari rumah, dari uang tunai, dari perhiasan. Padahal semua itu datang belakangan. Awalnya justru sunyi, penuh jeda, dan diwarnai penolakan yang tidak mudah.

 

Beberapa tahun sebelumnya, Aruna pernah menceritakan kepadaku tentang seorang lelaki asing yang datang dengan bahasa terbata dan sikap sopan yang nyaris kikuk. Elias datang membawa niat, bukan keberanian berlebihan. Ia mengutarakan lamaran pertamanya dengan jujur. Aruna menolak, bukan karena tidak ada rasa, melainkan karena ada keyakinan yang tak bisa dinegosiasikan.

 

Lamaran kedua datang setelah waktu berlalu. Elias tampak lebih tenang, lebih mengenal kebiasaan Aruna dan keluarganya. Ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Namun jawaban Aruna tetap sama. Ia tidak ingin cinta menjadi alasan untuk mengalah pada prinsip. Malam itu, Aruna mengaku menangis lama, bukan karena benci, melainkan karena harus setia pada batas yang ia yakini benar.

 

Lamaran ketiga adalah yang paling sunyi. Elias datang tanpa cincin, tanpa janji berlapis kata manis. Ia hanya membawa satu keputusan hidup. Dengan suara pelan namun mantap, ia berkata bahwa ia ingin berjalan di jalan yang sama. Bukan demi pernikahan, melainkan demi kebenaran yang ingin ia pahami sepenuhnya.

 

Keputusan itu tidak lahir dalam sehari. Elias pernah bercerita bahwa ada malam malam panjang yang ia lewati sendiri, menimbang masa lalu, kebiasaan lama, dan arah hidup yang selama ini ia jalani. Ia tahu bahwa pilihannya akan mengubah banyak hal, mungkin membuatnya kehilangan sebagian dirinya yang lama. Namun justru di situlah ia merasa jujur pada hati.

 

Perubahan itu tidak dirayakan. Tidak ada pengumuman, tidak ada sorak. Elias belajar dalam diam, bertanya dengan rendah hati, dan membiarkan dirinya diuji oleh waktu. Barulah setelah keyakinan itu benar benar ia pilih sebagai jalan hidup, Aruna berkata iya. Bukan karena asal usul Elias, bukan karena apa yang ia miliki, melainkan karena keteguhan yang tak bisa dibeli.

 

Pernikahan direncanakan sederhana. Namun kabar berkembang liar. Angka angka muncul dari mulut ke mulut, dibesar besarkan, dibumbui kekaguman. Aku tahu Aruna gelisah menghadapi semua itu. Ia khawatir makna perjalanan mereka tenggelam oleh hiruk pikuk pujian.

 

Kini aku kembali ke pelaminan. Pigura besar itu diangkat, kamera mengabadikan momen, tepuk tangan memenuhi ruangan. Pembawa acara membacakan isi mahar dengan suara lantang. Rumah, uang tunai, perhiasan. Semua terdengar sempurna, nyaris seperti dongeng.

 

Lalu Aruna meminta mikrofon. Ruangan mendadak sunyi. Dengan tenang, ia membuka bagian belakang pigura dan menunjukkan catatan kecil yang selama ini tersembunyi. Ia membacanya pelan, namun jelas.

 

Seluruh mahar itu, katanya, telah diikrarkan sebagai amanah bersama. Rumah akan menjadi ruang belajar terbuka. Uang tunai dialokasikan untuk beasiswa. Perhiasan menjadi tabungan wakaf. Tidak ada yang disimpan untuk kemewahan pribadi.

 

Hadirin terdiam. Elias menunduk, menarik napas panjang, seolah menahan sesuatu agar tidak jatuh dari matanya. Di saat itulah aku mengerti. Angka angka itu bukan tujuan, melainkan alat. Bukan hadiah, melainkan tanggung jawab.

 

Takdir ternyata tidak bekerja dengan tergesa. Ia menunggu sampai seseorang cukup jujur untuk memilih, cukup kuat untuk menolak jalan pintas, dan cukup teguh untuk berjalan di arah yang sama. Cinta mereka tidak berakhir di pelaminan. Ia justru dimulai setelah sorot lampu meredup dan semua orang pulang.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *