BuserNasional – Cerpen
Rindu sering disalahpahami sebagai jarak yang memisahkan dua tubuh, padahal ia kadang tinggal di tempat lebih dekat bernama ingatan. Cerita ini dibingkai oleh seorang laki laki yang pulang membawa bunga dan keyakinan bahwa kehadiran selalu cukup untuk mengalahkan waktu, hingga ia menyadari rindu tidak pernah menunggu kedatangan siapa pun, dan selalu datang lebih dulu tanpa izin, tanpa suara, tanpa jalan.
Aku menulis kisah ini dari sebuah bangku kayu di pemakaman tua yang selalu basah, meski matahari sedang terang. Di sini, sunyi tidak pernah benar benar kosong. Ia penuh oleh langkah yang tertunda, doa yang lupa diucapkan, dan nama nama yang tak lagi punya alamat selain batu nisan.
Laki laki itu bernama Arga. Ia datang dengan tas lusuh dan seikat bunga melati yang diikat seadanya. Cara ia membawa bunga itu aneh, seperti takut kelopaknya rontok hanya karena disentuh. Ia duduk beberapa langkah dariku, memandang ke depan tanpa membaca nama yang tertera.
Aku tidak bertanya siapa yang ia tunggu. Kami sama sama paham, pemakaman bukan tempat menunggu, melainkan tempat mengingat.
Arga bercerita seolah aku sudah lama mengenalnya. Ia pulang setelah sepuluh tahun merantau dengan keyakinan sederhana bahwa rindu bisa diselesaikan dengan tatap muka. Kota kecil ini masih sama, katanya, hanya waktu yang terasa lebih pendek. Ia menyebut satu nama, Dara, dengan suara yang selalu melambat di suku kata terakhir.
Ia yakin rumah Dara masih berdiri, pintunya masih berdecit, dan kopi pagi masih terasa pahit seperti dulu. Dalam kepalanya, kepulangan adalah pertemuan. Rindu hanyalah jarak yang kini habis.
Hari pertama ia berjalan menyusuri jalan yang dihafalnya dengan mata tertutup. Toko roti, lapangan kecil, dan halte tua masih ada, tetapi tak satu pun menyapanya kembali. Semua tampak seperti lukisan yang digantung terlalu lama, warnanya ada, namun maknanya bergeser.
Ia berdiri di depan rumah Dara hingga senja jatuh. Lalu pergi perlahan tanpa mengetuk. Pintu yang tidak dibuka kadang lebih nyaring dari jawaban apa pun.
Kabar itu datang keesokan hari dari orang yang tidak disengaja. Ia mendengarnya tanpa duduk, tanpa persiapan. Dara telah meninggal dua tahun lalu. Kalimat itu tidak menjerit, tidak menangis, hanya berhenti di udara, lalu jatuh.
Arga datang ke pemakaman ini membawa bunga yang sama. Aku melihat tangannya gemetar saat membaca nama di batu nisan itu. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri terlalu lama, seolah menunggu huruf huruf itu berubah.
Sejak hari itu, Arga sering datang. Kadang pagi, kadang menjelang hujan. Selalu dengan bunga yang ia lipat ulang sebelum diletakkan rapi. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk dan memandang ke depan, seperti mendengarkan sesuatu yang tak bisa kudengar.
Aku duduk di sampingnya beberapa kali. Kami berbagi diam yang panjang. Ia bercerita tentang kota lain, tentang pekerjaan yang tak sempat ia banggakan, tentang janji pulang yang selalu ditunda. Ia tertawa kecil setiap kali menyebut kata nanti.
Suatu sore, hujan turun deras. Bangku ini kosong. Aku mengira Arga akhirnya selesai. Aku berdiri hendak pergi ketika melihat bunga melati segar di atas nisan Dara.
Langkahku terhenti di batu nisan sebelahnya. Namanya membuat napasku tertahan. Arga. Tanggal wafatnya tertulis beberapa hari lalu.
Aku kembali menoleh ke bangku kayu itu. Kini aku mengerti mengapa ia selalu duduk menghadap ke depan, mengapa ia tak pernah benar benar membaca nama Dara. Ia sedang pulang kepada sesuatu yang sudah lebih dulu menunggunya.
Aku menunduk. Baru kusadari sejak awal aku tak pernah datang untuk berziarah. Aku datang untuk tinggal.
Namaku tertera di batu yang sama dinginnya. Jazadku telah lama terbungkus kain kafan.
Di tempat ini kami semua akhirnya bertemu. Bukan sebagai yang menunggu atau ditunggu, melainkan sebagai rindu yang terlambat menyadari bahwa rumah tidak lagi berada di ujung perjalanan, melainkan tepat di bawah kaki yang berhenti melangkah.














