BuserNasional — Setiap pagi sebuah mikrolet tua berhenti di depan klinik kecil di ujung gang. Dari dalamnya turun seorang dokter renta berjas putih kusam, membawa tas hitam yang tampak lebih tua dari usianya sendiri. Ia melangkah pelan, seolah menakar waktu. Publik memujinya sebagai dokter sepuluh ribu. Namun kisah ini bukan hanya tentang tarif murah, melainkan tentang bingkai kehidupan, luka yang disimpan, dan sebuah rahasia yang menunggu waktu untuk terbuka sepenuhnya.
Dr Raimon Siregar berusia delapan puluh empat tahun ketika namanya mulai ramai diperbincangkan. Wajahnya muncul di ponsel orang orang, diiringi kisah kesederhanaan yang menghangatkan hati. Ia bukan dokter yang datang dengan mobil mewah atau sopir pribadi. Setiap hari ia naik mikrolet, duduk dekat pintu, menatap jalanan Jakarta yang tak pernah benar benar diam.
Kliniknya berdiri sederhana. Dindingnya hijau pudar, lantainya dingin, dan kursi tunggunya sering penuh. Pasien datang dari berbagai penjuru. Buruh, pedagang kecil, pemulung, ibu rumah tangga, hingga anak anak dengan demam berkepanjangan. Mereka memanggilnya Dokter Raimon dengan suara pelan dan mata penuh harap. Ia memeriksa dengan sabar, mendengarkan lebih lama daripada berbicara.
Tarifnya sepuluh ribu rupiah. Dengan jumlah itu, pasien sudah mendapat pemeriksaan dan obat obatan. Banyak yang bertanya mengapa ia masih bertahan dengan biaya serendah itu. Dalam cerita yang beredar, Dr Raimon digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya meninggalkan ambisi materi. Ia disebut hanya mengejar kemanusiaan. Cerita itu beredar rapi, seolah hidupnya lurus tanpa simpang.
Namun kehidupan jarang sesederhana narasi. Pada tahun dua ribu lima, klinik itu pernah benar benar gratis. Semua biaya ditanggung bersama oleh Dr Raimon dan rekan rekannya. Hingga suatu hari, ia mendapati obat yang dibagikan gratis dijual kembali di luar. Malam itu, ia duduk lama di ruang praktik, menatap rak obat yang kosong dan hatinya yang lebih kosong lagi. Sejak saat itu, tarif sepuluh ribu diberlakukan. Bukan untuk keuntungan, melainkan untuk tanggung jawab.
Sebelum dikenal sebagai dokter bagi manusia, Dr Raimon memulai kariernya sebagai dokter hewan. Tahun tujuh puluh delapan ia berkeliling desa, mengobati sapi dan kambing. Dari hewan hewan itu ia belajar kesabaran, ketulusan, dan diam. Tahun sembilan puluh lima, ia menggagas tempat pengobatan murah bersama beberapa sahabat. Klinik itu tumbuh, bahkan membuka cabang, meski namanya jarang ditulis besar.
Untuk kehidupan sehari hari, Dr Raimon mengandalkan uang pensiun dan bantuan anak anaknya. Ia menolak tawaran kendaraan, menolak sumbangan yang berlebihan. Mikrolet adalah pilihannya. Di sana, katanya, ia merasa setara. Ia mendengar cerita sopir, keluhan penumpang, dan keluh kesah kota yang tak pernah selesai.
Malam hari adalah waktunya menulis. Tangannya gemetar karena usia, jarinya sering salah menekan huruf. Namun ia terus menulis. Tentang etika pengobatan, tentang pasien pasien yang mengajarkannya makna hidup. Ada penerbit kecil yang membayar tulisannya. Uang itu cukup untuk membeli kertas, tinta, dan secangkir kopi pahit.
Ada satu hal yang jarang disadari orang. Setiap kali menangani pasien anak, Dr Raimon selalu lebih lama terdiam. Tatapannya kosong sejenak, seolah kembali ke sebuah ruangan lain, di waktu yang jauh. Ia sering menutup buku catatannya lebih cepat, lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
Suatu sore, seorang jurnalis muda bernama Liana datang mewawancarainya. Pertanyaannya ringan, seputar kesederhanaan dan pilihan hidup. Hingga Liana bertanya pelan, mengapa di usia senja ini ia masih bekerja setiap hari tanpa lelah.
Dr Raimon terdiam. Waktu seakan berhenti di ruang praktik itu. Ia lalu bercerita tentang seorang anak kecil yang datang terlambat ke sebuah klinik besar puluhan tahun lalu. Anak itu tak tertolong karena orang tuanya tak mampu memenuhi syarat administrasi awal. Sejak hari itu, katanya, ia meninggalkan karier mapan dan memilih jalan sunyi.
Liana menulis kisah itu. Publik kembali terharu. Namun beberapa hari kemudian, Dr Raimon tak lagi datang ke klinik. Mikrolet berhenti, pintu klinik tertutup. Di dalam tas hitamnya, ditemukan sebuah amplop berisi salinan akta lama dan surat pengadilan yang menguning.
Anak kecil yang ia ceritakan dalam wawancara itu bukan pasien biasa. Ia adalah putra Dr Raimon sendiri, hasil pernikahan yang tak pernah ia akui karena ambisi dan ketakutannya di masa lalu. Klinik murah, tarif sepuluh ribu, mikrolet tua, semua itu bukan sekadar pengabdian.
Itu adalah hukuman yang ia pilih sendiri. Sebuah penebusan seumur hidup, yang baru dipahami orang orang setelah mikrolet terakhir yang ditumpanginya berhenti untuk selamanya.














