Cerpen: Suara Pagi Yang Mengubah Langkah Hidup

Cerpen

banner 120x600

BuserNasional — Pagi itu halaman sekolah belum sepenuhnya ramai, tetapi barisan siswa sudah mulai terbentuk dengan rapi. Udara masih dingin, dan beberapa siswa tampak menguap tanpa berusaha menutupinya. Arga berdiri di barisan tengah dengan wajah datar, seragamnya kusut, seolah ia datang hanya karena terpaksa. Dalam hatinya, sekolah hanyalah rutinitas yang membosankan, bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan. Ia bahkan sempat berharap hujan turun agar upacara dibatalkan pagi itu.

 

Langkahnya tadi pagi pun penuh keraguan, bahkan ia sempat berhenti di warung dekat gang untuk mengulur waktu. Ia tahu ia hampir terlambat, tetapi anehnya ia tidak merasa bersalah. Baginya, datang tepat waktu atau tidak tidak akan mengubah apa pun dalam hidupnya. Teman temannya mungkin sudah terbiasa melihatnya seperti itu, setengah hadir, setengah peduli. Namun pagi itu, tanpa ia sadari, sesuatu sedang menunggunya.

 

Ketika pembina upacara maju ke depan, suasana mendadak lebih hening dari biasanya. Suaranya tidak keras, tetapi jelas dan dalam, seolah menembus kerumunan siswa yang setengah sadar. Arga awalnya tidak terlalu memperhatikan, tetapi ada satu kalimat yang membuatnya mengangkat kepala. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti ditujukan langsung kepadanya. Ia tidak tahu mengapa, tetapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

 

Pembina itu berkata bahwa setiap langkah menuju sekolah bukan sekadar perjalanan biasa. Ia menyebut bahwa langkah itu adalah usaha menjemput masa depan, sesuatu yang tidak datang dengan sendirinya. Arga menelan ludah, merasa kalimat itu seperti menyinggung kebiasaannya selama ini. Ia teringat bagaimana sering ia berjalan dengan malas, bahkan berharap waktu berjalan lebih cepat agar hari segera berakhir. Untuk pertama kalinya, ia merasa langkahnya selama ini mungkin tidak pernah benar benar ia pahami.

 

Suara itu terus mengalir, berbicara tentang sekolah sebagai tempat membentuk diri, bukan sekadar tempat duduk dan pulang. Arga mulai merasa gelisah, karena setiap kalimat seperti membuka kebiasaan buruk yang selama ini ia anggap biasa. Ia teringat tugas yang sering ia abaikan, guru yang jarang ia dengarkan, dan waktu yang sering ia sia siakan. Tidak ada yang menyebut namanya, tetapi ia merasa seperti sedang dipanggil. Dalam diam, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

BERITA TERKAIT  Resensi Buku Bersihnya Jiwa, Tenangnya Hidup

 

Tiba tiba pembina itu bercerita tentang seorang anak yang berjalan jauh setiap pagi untuk sekolah. Anak itu tidak pernah mengeluh, meskipun jalannya panjang dan cuaca sering tidak bersahabat. Arga membayangkan jalan berlumpur, kaki yang lelah, dan tas berat yang terus dibawa. Ia membandingkannya dengan dirinya yang hanya berjalan sebentar tetapi selalu merasa berat. Perbandingan itu membuat dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.

 

Upacara berakhir seperti biasa, tetapi Arga tidak segera bergerak. Ia masih berdiri, menatap kosong ke depan, seolah mencoba menangkap sesuatu yang baru saja lewat. Kata kata tadi terus terngiang di kepalanya, tidak mau pergi meskipun suasana sudah kembali ramai. Temannya menepuk bahunya, mengajaknya ke kelas, tetapi ia hanya mengangguk pelan. Pagi itu terasa berbeda, meskipun tidak ada yang benar benar berubah di sekitarnya.

 

Di kelas, Arga mencoba mendengarkan pelajaran dengan lebih serius dari biasanya. Ia menahan diri untuk tidak bercanda, meskipun godaan itu tetap ada. Guru sempat memandangnya heran, karena perubahan itu terasa tiba tiba. Arga sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tetapi ia merasa harus mencoba. Seolah ada suara yang mengingatkannya untuk tidak kembali seperti sebelumnya.

 

Hari hari berikutnya berjalan dengan perubahan kecil yang perlahan terasa besar. Arga mulai bangun lebih pagi, merapikan seragamnya, dan berangkat tanpa perlu dipaksa. Ia tidak lagi berhenti di warung hanya untuk mengulur waktu. Teman temannya mulai menyadari perbedaannya, meskipun mereka tidak banyak bertanya. Dalam dirinya, Arga merasa sedang berjalan menuju sesuatu yang belum ia kenal.

BERITA TERKAIT  Resensi Buku Bersihnya Jiwa, Tenangnya Hidup

 

Suatu pagi, ia sengaja mengambil jalan berbeda, ingin membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. Di ujung jalan itu, ia melihat seorang anak kecil berjalan sendirian dengan tas besar di punggungnya. Kaki anak itu kotor, langkahnya pelan, tetapi wajahnya tampak tenang. Arga menghentikan langkahnya, memperhatikan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang terasa akrab sekaligus asing.

 

Ia mencoba menyapa, tetapi anak itu hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis. Tanpa berkata apa apa, anak itu terus berjalan, seolah memiliki tujuan yang jelas. Arga berdiri beberapa saat, lalu melanjutkan langkahnya dengan pikiran yang penuh tanda tanya. Bayangan anak itu terus mengikuti langkahnya sampai ke gerbang sekolah. Ia merasa seperti baru saja melihat sesuatu yang penting.

 

Pada upacara berikutnya, Arga kembali berdiri dengan perasaan yang berbeda. Ia menunggu suara yang sama, suara yang pernah mengubah cara pandangnya. Namun pembina yang berdiri di depan tampak berbeda, baik wajah maupun cara bicaranya. Arga mencoba mengingat, tetapi bayangan pembina sebelumnya terasa kabur. Ia mulai merasa ada yang tidak beres.

 

Sepulang sekolah, ia bertanya kepada gurunya tentang pembina upacara minggu lalu. Guru itu mengernyit, lalu menjawab bahwa tidak ada yang berbeda dari biasanya. Jawaban itu membuat Arga terdiam, pikirannya dipenuhi kebingungan. Ia mencoba menjelaskan, tetapi semakin ia berbicara, semakin ia merasa ragu pada ingatannya sendiri.

 

Malam harinya, Arga membuka buku tulis dan mencoba menuliskan kalimat yang ia ingat. Tangannya bergerak pelan, menuliskan tentang langkah dan masa depan yang harus dijemput. Ia menatap tulisan itu lama, seolah mencari kepastian bahwa semua itu benar benar terjadi. Namun yang ia rasakan justru sebaliknya, semuanya terasa seperti datang dari tempat yang tidak jelas.

BERITA TERKAIT  Resensi Buku Bersihnya Jiwa, Tenangnya Hidup

 

Keesokan paginya, ia kembali ke jalan tempat ia melihat anak kecil itu. Jalan itu sunyi, tidak ada siapa pun yang melintas, bahkan suara langkah pun tidak terdengar. Ia bertanya kepada warga sekitar, tetapi tidak ada yang pernah melihat anak seperti yang ia ceritakan. Jawaban itu membuatnya merinding, sekaligus bingung. Ia mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya ia lihat.

 

Di tengah kebingungan itu, Arga menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam lama. Ia tidak pernah benar benar melihat wajah pembina upacara itu dengan jelas. Ia juga tidak bisa memastikan dari mana suara itu berasal. Bahkan anak kecil yang ia temui terasa seperti bayangan yang muncul dan menghilang begitu saja. Kesadaran itu datang perlahan, tetapi menghantam kuat.

 

Ia akhirnya mengerti bahwa mungkin semua itu bukan tentang orang lain. Mungkin suara itu adalah bagian dari dirinya yang selama ini ia abaikan. Anak kecil itu mungkin adalah gambaran dirinya yang seharusnya, yang tetap berjalan meski sulit. Semua yang ia alami bukan kebetulan, melainkan cara dirinya sendiri untuk bangun.

 

Arga menarik napas panjang, lalu melangkah menuju sekolah dengan langkah yang lebih pasti. Kini ia tidak lagi merasa dipaksa atau sekadar menjalani rutinitas. Ia tahu setiap langkah yang ia ambil memiliki arti yang lebih besar dari sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, ia benar benar percaya bahwa masa depan bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi sesuatu yang harus dijemput dengan kesadaran.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *