CAHAYA DI BALIK TEMBOK PESANTREN Seri 2: Hari-Hari Pertama di Asrama

Seri 2: Hari-Hari Pertama di Asrama Oleh: Dwi Taufan Hidayat

banner 120x600

CAHAYA DI BALIK TEMBOK PESANTREN

Seri 2: Hari-Hari Pertama di Asrama

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

Malam pertama di Pesantren Darul Amanah menjadi pengalaman yang tidak mudah bagi sebagian besar santri baru.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan pengenalan selesai, para santri kembali ke asrama masing-masing. Lampu-lampu di sepanjang jalan pondok memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Suara jangkrik terdengar dari balik pepohonan yang mengelilingi kompleks pesantren.

Di Asrama Abu Bakar, Ahmad duduk di atas tempat tidurnya sambil merapikan pakaian yang baru saja dikeluarkan dari koper.

Di sekelilingnya, para penghuni kamar melakukan hal yang sama.

Ada yang sedang memasang sprei.

Ada yang menyusun buku di rak kecil.

Ada pula yang diam-diam menyeka air mata karena mulai merindukan rumah.

Farid yang berada di ranjang sebelah tersenyum kecil.

“Kamu kangen rumah juga?”

Ahmad tertawa pelan.

“Sedikit.”

“Kalau aku banyak.”

Keduanya tertawa bersama.

Perasaan rindu ternyata dirasakan hampir semua santri baru.

Namun suasana hangat perlahan tumbuh ketika mereka mulai saling mengenal.

Malam itu Kak Ridwan kembali mengumpulkan seluruh penghuni asrama.

“Baik, adik-adik. Sebelum istirahat, kita akan membahas tata tertib kehidupan asrama.”

Para santri segera duduk rapi.

Kak Ridwan lalu menjelaskan berbagai aturan yang berlaku.

Mulai dari jadwal bangun tidur, kewajiban menjaga kebersihan kamar, penggunaan fasilitas pondok, hingga tata cara meminta izin apabila ada keperluan khusus.

“Aturan dibuat bukan untuk mempersulit,” jelasnya.

“Tetapi untuk membantu kita hidup tertib dan saling menghormati.”

Semua mendengarkan dengan saksama.

Kemudian beliau menunjukkan sebuah buku kecil berwarna hijau.

“Ini adalah buku panduan santri.”

Setiap santri menerima satu eksemplar.

Ahmad membuka halaman demi halaman dengan penuh rasa ingin tahu.

Di dalamnya terdapat jadwal kegiatan harian yang sangat rinci.

Pukul 03.45 bangun tidur.

Pukul 04.15 persiapan salat Subuh.

Pukul 05.00 pengajian pagi.

Pukul 07.00 kegiatan belajar.

Dan seterusnya hingga waktu istirahat malam.

Ahmad terkejut melihat padatnya jadwal tersebut.

“Apakah setiap hari seperti ini, Kak?” tanya Hamzah.

Kak Ridwan tersenyum.

“Hampir setiap hari.”

Beberapa santri saling berpandangan.

Namun Kak Ridwan segera menambahkan,

“Jangan khawatir. Kalian akan terbiasa. Disiplin itu tidak datang dalam satu malam. Ia tumbuh sedikit demi sedikit.”

Nasihat itu membuat para santri merasa lebih tenang.

 

Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, sebuah bel berbunyi nyaring di seluruh kompleks pesantren.

Teng… teng… teng…

Ahmad membuka mata dengan susah payah.

Untuk sesaat ia lupa bahwa dirinya sudah tidak berada di rumah.

“Kita bangun?” tanya Farid sambil mengucek mata.

“Sepertinya harus.”

Mereka pun segera bergegas.

Suasana asrama mendadak ramai.

Para santri berjalan menuju tempat wudu dengan tertib.

Meski masih mengantuk, mereka berusaha mengikuti ritme kehidupan pondok.

Setelah salat Subuh berjamaah, seluruh santri mengikuti pengajian pagi di masjid.

Kiai Hasyim memimpin kajian singkat tentang pentingnya niat dalam menuntut ilmu.

Beliau berkata,

“Perjalanan kalian di pesantren akan panjang. Ada saatnya kalian merasa lelah, bosan, bahkan ingin menyerah. Karena itu jagalah niat kalian sejak awal.”

Masjid menjadi sangat hening.

“Kita belajar bukan untuk dipuji manusia, melainkan untuk mencari ridha Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.”

Kalimat itu kembali menguatkan hati Ahmad.

 

Hari-hari berikutnya menjadi masa penyesuaian yang penuh tantangan.

Ahmad harus belajar mencuci pakaian sendiri.

Merapikan tempat tidur tanpa bantuan ibu.

Mengatur waktu antara belajar, ibadah, dan istirahat.

Pada awalnya tidak mudah.

Suatu pagi ia terlambat merapikan lemari.

Di hari lain ia hampir tertinggal menuju kelas karena terlalu lama mencari buku.

Namun perlahan ia mulai terbiasa.

Farid, Hamzah, dan Rifqi sering saling membantu.

Mereka saling mengingatkan jadwal.

Saling berbagi pengalaman.

Dan saling menyemangati ketika ada yang mulai merasa jenuh.

Persahabatan mereka tumbuh dari kebersamaan sederhana sehari-hari.

 

Di kompleks santriwati, Aisyah juga sedang menjalani proses yang sama.

Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dari rumahnya.

Pada malam kedua, rasa rindu kepada ibunya sempat membuatnya menangis diam-diam.

Namun Ustazah Naila memperhatikannya.

Beliau mendekat dan duduk di samping Aisyah.

“Masih kangen rumah?”

Aisyah mengangguk pelan.

“Itu wajar.”

“Apakah nanti saya bisa terbiasa, Ustazah?”

“Insya Allah. Semua santri pernah merasakan hal yang sama.”

Aisyah mulai merasa lebih tenang.

Perhatian sederhana itu membuatnya merasakan bahwa pesantren benar-benar menjadi rumah kedua bagi para santri.

 

Beberapa hari kemudian, seluruh santri baru mengikuti sosialisasi mengenai perlindungan dan keamanan santri.

Kegiatan tersebut dipandu oleh pengurus pondok.

Mereka menjelaskan berbagai prosedur yang harus dipahami seluruh santri.

“Setiap santri memiliki hak untuk merasa aman selama berada di lingkungan pesantren,” jelas salah seorang pengurus.

Para santri memperhatikan layar presentasi di depan.

“Jika ada permasalahan, jangan memendamnya sendirian.”

Pengurus kemudian memperkenalkan beberapa jalur pengaduan.

Ada musyrif dan musyrifah.

Ada wali asrama.

Ada kantor pengurus.

Ada kotak aspirasi.

Dan ada nomor layanan yang dapat dihubungi sesuai prosedur yang berlaku.

Semua dijelaskan secara terbuka.

Ahmad merasa kagum.

Ia melihat bahwa setiap santri diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat maupun masalah dengan aman.

Sementara itu, Aisyah juga merasa lebih nyaman setelah memahami sistem yang diterapkan pesantren.

 

Minggu pertama akhirnya berlalu.

Meski masih sering merindukan rumah, Ahmad mulai menikmati kehidupan pondok.

Ia mulai hafal jalan-jalan di lingkungan pesantren.

Mulai mengenal para guru.

Mulai memahami jadwal yang semula terasa begitu berat.

Suatu malam, setelah kegiatan belajar selesai, ia duduk bersama Farid di halaman asrama.

Angin malam berembus sejuk.

Dari kejauhan terdengar suara santri yang sedang mengulang hafalan.

“Menurutmu kita akan betah di sini?” tanya Farid.

Ahmad tersenyum.

Ia memandang masjid yang berdiri megah di tengah kompleks pondok.

“Sepertinya iya.”

“Mengapa?”

“Karena aku merasa ada banyak hal yang akan kita pelajari di tempat ini.”

Farid mengangguk.

Mereka berdua belum mengetahui bahwa perjalanan mereka di Darul Amanah baru saja dimulai.

Masih banyak pelajaran yang akan mereka temui.

Pelajaran tentang ilmu.

Tentang persahabatan.

Tentang tanggung jawab.

Dan yang terpenting, tentang adab yang menjadi pondasi seluruh kehidupan seorang penuntut ilmu.

Bersambung: Seri 3 – Pelajaran Adab Sebelum Ilmu

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *