Suatu siang yang lembap di sebuah bank kecil di sudut kota, seorang lelaki berdiri cukup lama di meja formulir. Ia tidak sedang bingung mengisi data, juga bukan ragu pada jumlah uang yang hendak disetor. Perhatiannya justru tertambat pada benda kecil yang tampak sepele. Sebuah pulpen plastik biru yang diikat kabel tipis pada kaki meja.
Hujan baru saja berhenti ketika Arman masuk ke bank itu. Lantai keramik masih meninggalkan jejak sepatu basah para nasabah yang datang dari luar. Pendingin udara berdengung pelan, menyingkirkan sisa gerah dari jalanan yang baru saja diguyur hujan.
Di sudut ruangan, sebuah mesin antrean berbunyi pendek setiap kali nomor baru muncul di layar digital. Beberapa orang duduk menunggu giliran sambil memegang map atau amplop. Seorang ibu muda menenangkan anaknya yang mulai gelisah di kursi tunggu.
Arman berdiri di dekat meja kecil tempat formulir disediakan.
Di sanalah ia melihat pulpen itu.
Pulpen plastik biru yang diikat dengan kabel kecil.
Ia menariknya pelan. Kabel itu membuat gerakan tangannya terbatas, seolah pulpen tersebut adalah benda berharga yang harus dijaga ketat.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Manusia dengan mudah mempercayakan uangnya kepada bank. Tabungan, gaji bulanan, bahkan seluruh rencana masa depan mereka diserahkan kepada sistem yang berdiri di balik meja kaca.
Namun pulpen seharga beberapa ribu rupiah justru diikat seperti barang yang rawan dicuri.
Arman mengambil selembar formulir setoran dan mulai menulis. Tangannya bergerak perlahan. Bukan karena ia ragu dengan jumlah uang yang hendak disetor, melainkan karena pikirannya mulai berjalan ke mana mana.
Tentang kepercayaan.
Tentang manusia.
Tentang perubahan dunia.
Ia teringat masa kecilnya di kampung.
Dulu warung kecil milik Pak Sabar sering ditinggal begitu saja ketika waktu salat tiba. Tidak ada penjaga. Tidak ada kamera. Orang yang datang mengambil barang sendiri lalu memasukkan uang ke dalam kotak kayu kecil di atas meja.
Aneh sekali. Hampir tidak pernah ada barang yang hilang.
Seolah kepercayaan waktu itu hidup sebagai kebiasaan.
Sekarang dunia terasa berbeda.
Segalanya dipenuhi sistem keamanan. Kamera mengawasi setiap sudut. Kaca tebal memisahkan pegawai bank dan nasabah. Bahkan pulpen pun harus diikat.
Arman berhenti menulis sebentar.
Ia mengangkat pulpen itu sedikit.
Kabelnya menegang.
Seorang lelaki tua di kursi tunggu memperhatikan Arman yang terlalu lama berdiri di meja formulir.
“Lama sekali menulisnya,” kata lelaki tua itu sambil tersenyum tipis.
Arman menoleh.
“Saya sebenarnya tidak lama menulis. Saya cuma sedang memikirkan sesuatu.”
“Memikirkan apa?”
Arman mengangkat pulpen yang terikat itu sedikit.
“Lucu saja. Kita percaya menyimpan uang di sini. Tapi pulpen malah diikat.”
Lelaki tua itu tertawa kecil.
“Mungkin karena pulpen lebih sering hilang daripada uang di bank.”
Jawaban sederhana.
Namun entah kenapa terasa seperti sindiran kecil terhadap sifat manusia.
Nomor antrean Arman muncul di layar.
Ia berjalan menuju meja teller.
Seorang pegawai perempuan menerima formulir setoran dan amplop berisi uang tunai darinya. Mesin penghitung uang mulai berdengung cepat.
“Setoran dua puluh juta rupiah, ya Pak?” kata teller itu.
Arman mengangguk pelan.
Prosesnya tidak lama.
Struk kecil dicetak lalu disodorkan kepadanya.
“Sudah selesai, Pak. Terima kasih.”
Arman mengangguk lagi, lalu berjalan menuju pintu keluar bank.
Langit di luar tampak pucat setelah hujan panjang. Jalanan masih basah dan memantulkan cahaya kendaraan yang lewat.
Arman berhenti sejenak di trotoar.
Tangannya masuk ke dalam saku jaket.
Gerakannya tiba tiba terhenti.
Di dalam saku itu ada sebuah pulpen plastik biru.
Pulpen yang sama seperti yang tadi ia gunakan di meja formulir.
Ujung kabel kecil masih menempel, tetapi sudah terputus.
Arman memandang benda itu beberapa detik.
Tidak ada ekspresi panik di wajahnya.
Tidak ada juga rasa bersalah yang jelas.
Hanya sebuah senyum tipis yang perlahan muncul.
Senyum seseorang yang baru saja memahami sesuatu tentang manusia.
Ia memasukkan pulpen itu kembali ke dalam saku.
Di dalam bank, mungkin petugas baru menyadari bahwa satu pulpen telah hilang dari meja formulir.
Mungkin mereka akan menggantinya dengan pulpen baru.
Dengan kabel yang lebih kuat.
Arman mulai berjalan menyusuri trotoar yang masih basah.
Langkahnya tenang.
Di kepalanya hanya ada satu pikiran kecil yang terasa ironis.
Manusia memang percaya menyimpan uang di bank.
Tetapi bank ternyata benar tentang satu hal kecil.
Kadang kadang manusia memang tidak bisa dipercaya bahkan untuk sekadar mengembalikan sebuah pulpen.














