BuserNasional — opini– Di ruang arsip yang dingin aku memutar ulang sebuah rekaman lama. Suara perempuan itu jernih namun terasa jauh, seolah berasal dari lorong waktu. Ia dikenal publik lewat panggung hiburan masa silam, tetapi kisah yang ia titipkan bukan tentang tepuk tangan. Ini tentang kegelisahan, iman, dan sebuah kepulangan yang lama tertunda.
Lampu indikator alat perekam menyala. Aku duduk sendiri di Ruang Senandika, ruang kecil tanpa jendela yang biasa dipakai merapikan dokumen suara. Di depanku tertera nama Lira Ananta, tertulis dengan tinta yang mulai pudar. Aku menarik napas dan menekan tombol putar. Suaranya mengalir pelan, seperti orang yang sedang belajar jujur kepada dirinya sendiri.
Lira memulai ceritanya dari tahun akhir sembilan puluhan. Saat itu ia masih mahasiswa di Kota Arunika, membagi waktu antara kuliah dan latihan panggung. Di tengah kesibukan itu, pertanyaan sederhana menyergapnya tanpa aba aba. Untuk apa hidup dan ke mana manusia pergi setelah mati. Pertanyaan itu tidak datang saat ia sendiri, melainkan dari obrolan santai di kantin kampus.
Seorang teman menyebutkan bahwa dalam Islam, Isa dipahami sebagai nabi dan Tuhan dimaknai sebagai pemilik semesta yang satu. Kalimat itu tidak terasa menggurui, justru terdengar tenang. Lira mengaku pulang hari itu dengan kepala penuh gema. Ia tidak langsung percaya, tetapi tidak juga menolak. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya.
Ia mulai membaca banyak hal. Kitab suci, buku pemikiran, catatan sains populer. Setiap malam ia menutup buku dengan perasaan hampa. Logika terasa rapi, tetapi hatinya tetap kering. Dalam rekaman itu terdengar helaan napas panjang. Lira berkata ia sempat yakin Tuhan itu ada dan satu, namun ragu bahwa agama adalah jalan yang benar. Ia menyebut dirinya berada di ruang abu abu.
Aku menghentikan rekaman sesaat. Ada bunyi dengung halus dari alat tua ini. Jam dinding di sudut ruangan tidak bergerak. Aku mencatat waktu, lalu melanjutkan.
Hampir setahun Lira hidup dalam kebimbangan. Hingga suatu malam, sebuah mimpi datang. Ia tidak menyebutnya mimpi dengan yakin, hanya pengalaman gelap yang terasa nyata. Tidak ada gambaran jelas, hanya tekanan di dada, sunyi yang menelan, dan kehadiran yang membuatnya merasa kecil. Tidak ada pertanyaan keras, hanya kesadaran mendadak tentang siapa yang ia sandari.
Ia terbangun dengan air mata dan keyakinan yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan karena argumen, melainkan rasa tunduk yang lembut. Pada awal September dua ribu, Lira mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid kecil di Kota Lazuardi. Tidak ada saksi selain seorang penjaga masjid dan dirinya sendiri.
Namun suaranya berubah lirih ketika melanjutkan. Hijrah tidak serta merta mengubah hidupnya. Ia masih berdiri di panggung, masih terikat kebiasaan lama. Iman baginya seperti lampu kecil yang sering lupa ia nyalakan. Sampai kehilangan datang sebagai penanda waktu yang tegas.
Ibunya wafat lebih dari satu dekade kemudian. Lira terdiam lama dalam rekaman, seolah mencari kata. Ia mengatakan rumah mendadak terasa kosong, meski penuh barang. Dua tahun setelahnya, ayahnya menyusul. Beberapa hari sebelum itu, ia kembali mengalami pengalaman malam yang mengguncang, membuatnya sadar bahwa keyakinan tidak bisa dijalani setengah hati.
Sejak saat itu ia memulai kembali dari awal. Belajar membaca kitab sucinya perlahan di Kota Senandika, duduk bersama guru yang tidak terkenal. Ia menemukan ketenangan dalam pengulangan dan kesabaran. Ia menutup auratnya, menata hidupnya, dan menerima kesempatan ibadah yang dulu hanya ia dengar dari cerita orang lain. Kedamaian datang tanpa gegap gempita.
Rekaman mendekati akhir. Lira tersenyum, suaranya ringan. Ia berkata pulang bukan berarti selesai, melainkan berserah setiap hari. Ada ketukan halus di pintu ruang arsip. Aku tidak menjawab. Aku mematikan alat perekam dan duduk diam.
Di meja tergeletak map cokelat dengan label Obituari Lira Ananta. Tanggal wafatnya tercantum setahun sebelum hari ini. Aku menutup map itu perlahan. Ruang Senandika kembali sunyi. Jam dinding tetap diam. Baru saat itulah aku mengerti, suara yang barusan kudengar bukan wawancara, melainkan cara kenangan berpamitan.














