Cerpen: Nekat S3 Tanpa Beasiswa di Usia Empat Puluh

banner 120x600

BuserNasional — Aku membaca ulang email itu untuk ketiga kalinya, memastikan tidak ada yang salah dengan mataku. Di layar ponsel, tertulis jelas bahwa aku diterima sebagai mahasiswa doktoral di sebuah kampus di Manila. Seharusnya ini menjadi kabar yang membahagiakan, tetapi justru yang kurasakan adalah gelombang cemas yang pelan pelan naik. Tahun 2024 tidak membuka satu pun peluang beasiswa dari instansi tempatku bekerja, dan itu berarti satu hal: jika aku berangkat, aku harus membayar semuanya sendiri. Di usia yang sudah menginjak empat puluh, keputusan itu terasa seperti melompat dari tepi jurang tanpa tahu apa ada dasar di bawahnya.

Aku menatap langit langit kamar malam itu, menghitung ulang semua kemungkinan yang ada. Tabungan yang kupunya tidak cukup untuk membiayai seluruh studi, apalagi hidup di luar negeri dalam waktu lama. Di sisi lain, kesempatan ini tidak datang dua kali, dan aku tahu betul berapa lama aku menunggu momen seperti ini. Ada rasa takut yang sulit kujelaskan, seolah aku sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar uang. Namun ada juga dorongan yang tidak kalah kuat, sesuatu yang membuatku terus berpikir bahwa aku harus mencoba.

Pagi harinya aku datang ke kantor dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang. Beberapa kali aku hampir mengurungkan niat untuk menghadap atasan, tetapi langkah kakiku tetap membawaku ke depan pintu ruangannya. Saat akhirnya aku duduk di hadapannya, kata kata yang sudah kususun semalaman terasa berantakan. Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya menyampaikan niatku untuk melanjutkan studi S3 ke luar negeri dengan biaya mandiri. Ia menatapku cukup lama, seolah sedang menimbang apakah aku serius atau hanya sedang terbawa emosi.

“Kamu yakin dengan keputusan ini?” tanyanya pelan, namun tegas. Aku mengangguk, meski di dalam hati masih ada keraguan yang belum sepenuhnya hilang. Ia lalu menjelaskan berbagai risiko yang mungkin akan kuhadapi, mulai dari biaya, tekanan studi, hingga dampaknya terhadap karier. Setiap kalimatnya terasa seperti ujian terakhir sebelum aku benar benar melangkah. Namun entah bagaimana, aku tetap bertahan pada jawabanku.

Keputusan itu akhirnya keluar setelah jeda yang terasa panjang. Aku diberi izin untuk melanjutkan studi, sesuatu yang bahkan tidak berani kubayangkan akan terjadi secepat ini. Dari titik itu, segalanya bergerak dengan cara yang sulit dijelaskan. Proses administrasi yang biasanya rumit justru berjalan lancar, seolah setiap pintu yang kudatangi terbuka tanpa perlawanan. Surat perjalanan dinas luar negeri dan SK tugas belajar selesai dalam waktu yang jauh lebih cepat dari biasanya.

Bagian kepegawaian bahkan sempat berkata bahwa prosesku adalah yang paling cepat yang pernah mereka tangani. Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya, karena di dalam hati aku tahu ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebetulan. Di tengah semua kemudahan itu, aku juga mendengar satu hal yang membuatku terdiam. Aku disebut sebagai orang pertama di instansi ini yang mengambil langkah nekat untuk studi S3 luar negeri dengan biaya mandiri.

Perjalanan ini mengingatkanku pada tahun 2019, ketika aku sempat merencanakan hal yang sama. Saat itu, semuanya sudah hampir siap hingga kabar kelulusanku sebagai pegawai negeri datang dan mengubah arah hidupku sepenuhnya. Aku harus menunda mimpi itu, menerima kenyataan bahwa ada prioritas lain yang harus didahulukan. Meski sempat merasa kehilangan arah, waktu membuktikan bahwa keputusan itu membawa berkah yang tidak pernah kuduga.

Beberapa tahun kemudian, aku justru mendapatkan kesempatan melanjutkan studi S2 di Singapura tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Pengalaman itu seperti jawaban atas keraguan yang dulu sempat menghantuiku. Aku mulai percaya bahwa setiap penundaan memiliki alasan, dan setiap jalan yang tertutup bukan berarti akhir dari segalanya. Keyakinan itu perlahan tumbuh, meski tidak selalu mudah untuk dijaga.

Tahun 2024 menjadi titik di mana aku merasa tidak bisa lagi menunda. Lima tahun masa pengabdian telah kulalui, dan aku tahu jika aku terus menunggu, mungkin aku hanya akan menemukan alasan baru untuk tetap diam. Aku memilih melangkah, bukan karena merasa siap sepenuhnya, tetapi karena aku tidak ingin hidup dengan penyesalan. Dalam hati, aku hanya memegang satu keyakinan sederhana bahwa niat yang baik akan menemukan jalannya sendiri.

Hari keberangkatan semakin dekat, dan semua persiapan hampir selesai. Tiket sudah ada di tangan, dokumen tersusun rapi, dan perpisahan kecil dengan rekan kerja pun telah dilakukan. Beberapa orang memberikan dukungan penuh, tetapi tidak sedikit yang mempertanyakan keputusanku. Aku menerima semuanya sebagai bagian dari perjalanan yang memang tidak pernah mudah.

Malam sebelum keberangkatan, aku duduk sendirian di kamar dengan lampu redup. Di hadapanku tergeletak semua berkas yang selama ini kuurus dengan penuh harap. Aku membuka kembali surat penerimaan itu, membaca setiap barisnya perlahan, seolah ingin menyerap setiap makna yang terkandung di dalamnya. Untuk pertama kalinya, aku benar benar merasakan betapa besar keputusan yang telah kuambil.

Di tengah keheningan itu, pikiranku sempat goyah. Bagaimana jika aku gagal di tengah jalan, bagaimana jika uangku tidak cukup, dan bagaimana jika semua ini berakhir sia sia. Pertanyaan pertanyaan itu datang tanpa bisa dicegah, membuat dadaku terasa sesak. Aku menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri dengan keyakinan yang selama ini kupegang.

Tepat saat aku mulai memejamkan mata, ponsel di sampingku bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal, membuatku sedikit ragu untuk membukanya. Namun entah mengapa, ada dorongan kecil yang membuatku langsung menekan layar itu. Aku membaca pesan tersebut perlahan, kata demi kata, hingga akhirnya aku sampai pada bagian yang membuat waktu seakan berhenti.

Aku dinyatakan sebagai penerima beasiswa penuh untuk studi S3 di kampus yang sama.

Tanganku gemetar, dan untuk beberapa detik aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Semua ketakutan yang selama ini mengendap seolah luruh dalam satu momen yang tidak pernah kuduga. Air mata jatuh tanpa bisa kutahan, membawa rasa lega yang sulit dijelaskan dengan kata kata. Di titik itu, aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar benar berjalan sendiri.

 

Aku sempat berpikir bahwa keberanian untuk melangkah sendirilah yang membawaku sejauh ini. Namun malam itu mengajarkanku sesuatu yang berbeda. Bahwa ketika seseorang benar benar berniat dan berserah, selalu ada jalan yang dibukakan dengan cara yang tidak pernah bisa direncanakan. Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa bukan aku yang menemukan jalan ini, melainkan jalan inilah yang sejak awal telah menungguku.

Penulis: Taufan Hidayat koms IJWEditor: Busamat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *